Beberapa hari lalu ada teman yang chat saya. Dia bilang sudah keluar beberapa juta buat promosi jualannya di Instagram, pakai tombol “Boost” yang muncul di bawah postingan. Tinggal pencet, masukin budget, pilih beberapa hari, jadi. Gampang. Tapi sudah jalan dua minggu, pesanan yang masuk bisa dihitung jari, sementara saldo iklannya habis terus tiap hari.
Saya tanya satu hal sederhana. Kamu naikin iklan ini lewat tombol Boost di HP, atau lewat Ads Manager? Dia bingung, Ads Manager itu apa. Nah di situ saya tahu masalahnya bukan di produknya, bukan juga di budget. Masalahnya ada di alat yang dipakai. Dan ini kejadian berulang-ulang ke banyak orang yang baru mulai pasang iklan, jadi saya rasa perlu saya tulis biar jelas.
Kenapa Boost Post vs Ads Manager Itu Bukan Sekadar Beda Tampilan
Banyak yang mikir Boost Post dan Ads Manager itu cuma beda jalan masuk ke hal yang sama. Pencet tombol di postingan atau buka dashboard, sama-sama bikin iklan kan. Sebenarnya tidak begitu. Dua-duanya memang sama-sama beriklan di platform Meta, Facebook dan Instagram, tapi yang kamu kontrol di belakangnya beda jauh.
Boost Post itu didesain biar gampang. Tujuannya satu, supaya kamu yang gak ngerti iklan tetap bisa keluarin uang dengan cepat. Tombolnya ada tepat di bawah postingan, ngajak kamu klik. Begitu kamu klik, sistem yang nentuin hampir semuanya. Mau iklan kamu dilihat siapa, ditaruh di mana, dioptimasi buat apa, sebagian besar diputuskan otomatis. Kamu cuma kasih budget sama durasi.
Masalahnya, kalau kamu jualan, yang kamu mau bukan postingan yang banyak dilihat. Yang kamu mau adalah orang beli. Dan dua hal itu beda. Boost biasanya dioptimasi buat engagement, jadi like, komentar, orang lihat postingan. Bukan dioptimasi buat orang checkout atau orang isi form. Jadi wajar saja kalau like-nya banyak, viewnya naik, tapi pesanan gak gerak. Kamu bayar buat hal yang bukan kamu butuhkan sebenarnya.
Saya pernah ngelola ad spend yang lumayan besar buat brand teman, total sampai puluhan miliar rupiah, dan satu hal yang konsisten saya lihat, hampir gak ada yang serius pakai Boost buat jualan. Anggap itu pengalaman masa lalu ya, mungkin gak relevan persis buat kamu, tapi polanya selalu sama. Boost itu untuk situasi tertentu yang sempit. Selebihnya, kalau niatnya jualan, mainnya di Ads Manager.
Yang Sebenarnya Kamu Dapat Kalau Pindah ke Ads Manager
Ads Manager itu dashboard resmi dari Meta buat bikin dan ngatur iklan. Tampilannya memang lebih ribet dari tombol Boost, lebih banyak tombol, lebih banyak istilah. Tapi justru di situ kontrolnya. Logikanya simple, kalau kamu mau hasil yang spesifik, kamu butuh alat yang ngasih kamu kendali yang spesifik juga.
Coba kamu bayangin bedanya begini. Boost itu seperti kamu naik taksi dan cuma bilang “jalan-jalan aja deh”. Ads Manager itu kamu yang pegang setir, tahu mau ke mana, lewat mana. Sama-sama jalan, tapi yang satu nyampe tujuan, yang satu cuma muter-muter sambil argo jalan terus.
Ini beberapa hal konkret yang kamu bisa atur di Ads Manager, yang gak kamu dapat di Boost:
- Tujuan iklan yang jelas. Kamu bisa pilih tujuannya beneran “penjualan” atau “leads”, bukan cuma “engagement”. Jadi sistem Meta tahu dia harus nyari orang yang kemungkinan beli, bukan cuma orang yang suka ngelike.
- Target audience yang lebih dalam. Kamu bisa bikin audience dari orang yang pernah mampir ke website kamu, orang yang pernah lihat video kamu, atau audience yang mirip pembeli kamu sebelumnya. Ini yang biasa disebut retargeting dan lookalike. Boost gak ngasih kamu keleluasaan ini.
- Pisah-pisah iklan biar bisa dibandingkan. Di Ads Manager kamu bisa jalanin beberapa versi iklan sekaligus, beda gambar, beda copy, lalu lihat mana yang paling murah hasilkan pesanan. Jadi kamu belajar dari data, bukan nebak.
- Penempatan iklan yang kamu kontrol. Kamu bisa nentuin iklan muncul di feed Instagram saja, atau Stories, atau Reels, sesuai di mana audience kamu paling sering. Boost biasanya sebar otomatis ke mana-mana.
- Pixel dan tracking yang benar. Kamu bisa pasang pixel buat ngerekam siapa yang beli dari iklan mana. Tanpa ini, kamu gak pernah tahu iklan kamu sebenarnya untung atau boncos.
Nah dari kelima ini, yang paling sering bikin perbedaan langsung adalah tujuan iklan. Kalau kamu cuma pindah dari Boost ke Ads Manager tapi tujuannya masih kamu set ke “engagement”, ya hasilnya gak beda jauh. Yang bikin Boost sering buang uang itu bukan tombolnya, tapi karena di balik tombol itu tujuannya hampir selalu salah buat orang yang niatnya jualan. Pindah ke Ads Manager baru ada artinya kalau kamu juga benerin tujuannya jadi “penjualan”.
Saya gak bilang Boost itu jelek total ya. Setiap alat punya tempatnya. Kalau kamu cuma mau satu postingan tertentu dilihat lebih banyak orang, misalnya pengumuman atau konten yang lagi bagus performanya, Boost oke-oke aja buat itu. Tapi buat jualan rutin, buat scale, buat ngerti angka, itu Ads Manager.
Hal yang Sering Dilewatkan: Boost Itu “Pajak Kemalasan”
Ada satu hal yang jarang dibahas orang. Boost itu sebenarnya bukan cuma kurang fitur. Boost itu cara Meta ngambil uang dari orang yang belum mau belajar. Saya gak bilang ini jahat, ini bisnis yang masuk akal dari sisi mereka. Tapi dari sisi kamu sebagai pemilik bisnis, ini yang sering jadi lubang yang gak kelihatan.
Kenapa? Karena Boost itu nyaman. Tinggal pencet, gak perlu mikir, gak perlu buka dashboard yang bikin pusing. Dan kenyamanan itu ada harganya. Kamu bayar lebih, dapat lebih sedikit kontrol, dan yang paling mahal, kamu gak belajar apa-apa dari uang yang sudah kamu keluarkan. Bulan depan kamu mulai dari nol lagi, masih nebak-nebak.
Yang sering dilewatkan juga, banyak yang merasa Ads Manager itu terlalu susah jadi mereka gak mau mulai. Padahal susahnya itu di awal saja. Orang gak bisa karena gak terbiasa. Begitu kamu duduk dua tiga jam, bikin satu kampanye penjualan pertama dari awal sampai jadi, kamu bakal ngeh ternyata gak seseram itu. Dan setelah itu, setiap rupiah yang kamu keluarkan jadi ngajarin kamu sesuatu. Itu yang gak bisa kamu beli dari tombol Boost.
Jadi kalau kamu sekarang masih pakai Boost dan merasa hasilnya stuck, mungkin masalahnya bukan kamu kurang budget. Mungkin kamu cuma belum pindah ke alat yang benar.
Kalau kamu mau jualan lewat iklan dengan serius, mulai aja belajar Ads Manager dari satu kampanye penjualan, jangan dari tombol Boost.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang — ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id — ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara mulai pindah dari Boost Post ke Ads Manager?
Mulai dari buka Ads Manager lewat akun bisnis Meta kamu, lalu bikin satu kampanye baru dengan tujuan “penjualan” atau “leads”, bukan “engagement”. Pakai dulu postingan yang selama ini performanya paling bagus sebagai materi iklannya. Jangan langsung bikin banyak, satu kampanye dulu sampai kamu paham alurnya.
Berapa lama biasanya sampai kelihatan bedanya setelah pindah ke Ads Manager?
Biasanya butuh beberapa hari sampai sekitar satu minggu sampai sistemnya selesai belajar dan datanya cukup buat dibaca. Jadi jangan buru-buru matiin iklan di hari kedua kalau belum ada hasil. Kasih waktu sistemnya, sambil kamu pantau angka biaya per pesanannya.
Apakah Boost Post selalu buang-buang uang?
Gak selalu. Boost masih masuk akal kalau tujuan kamu memang cuma bikin satu postingan dilihat lebih banyak orang, misalnya konten yang lagi bagus atau pengumuman. Yang jadi buang uang itu kalau kamu pakai Boost buat jualan rutin, karena dia gak dioptimasi buat orang beli.
Apa bedanya hasil yang dikejar Boost Post sama Ads Manager?
Boost biasanya ngejar engagement, jadi like, komentar, dan orang lihat postingan. Ads Manager bisa kamu set buat ngejar hasil yang lebih nyata buat bisnis, seperti penjualan atau lead. Bedanya di situ, satu ngejar perhatian, satu ngejar tindakan yang menghasilkan uang.
Saya gak ngerti teknis dan takut Ads Manager terlalu ribet, gimana?
Wajar kok takut di awal, hampir semua orang gitu. Tapi ribetnya itu cuma di kampanye pertama. Orang gak bisa bukan karena gak mampu, tapi karena belum terbiasa. Coba sisihkan dua tiga jam buat bikin satu kampanye dari awal sampai jadi, dan setelah itu biasanya kamu sadar ternyata gak seseram yang dibayangin.
