Kemarin ada teman cerita ke saya, dia bingung. Dia jualan produk skincare, brand-nya udah jalan setahunan, mulai ada yang kenal. Nah orang-orang mulai nyari nama brand-nya di Google. Harusnya senang kan, itu artinya brand mulai dicari. Tapi yang muncul di urutan paling atas malah iklan kompetitor. Jadi orang ketik nama brand dia, eh yang nongol duluan justru toko sebelah yang jual produk sejenis. Calon pembeli yang udah niat beli produk dia, malah diserobot di detik terakhir.
Ini kejadian yang lebih sering daripada yang kamu kira. Dan yang bikin nyesek, kamu udah capek-capek bangun brand, udah keluar biaya buat konten, buat awareness, terus pas orang udah mau cari kamu, traffic-nya malah lari ke orang lain. Saya mau bahas ini, karena ini salah satu kebocoran yang paling mahal tapi paling gak kelihatan.
Kenapa orang nyari brand di Google tapi ketemu kompetitor
Logikanya simple sebenarnya. Google Ads itu sistem lelang. Siapapun boleh masang iklan di kata kunci apapun, termasuk nama brand kamu. Jadi kompetitor kamu, secara legal, boleh kok bidding di nama brand kamu sendiri. Mereka pasang iklan, targeting-nya nama brand kamu, terus pas ada orang ngetik brand kamu, iklan mereka muncul paling atas dengan label kecil “Bersponsor”.
Nah masalahnya, kebanyakan orang gak bisa bedain mana iklan mana hasil pencarian asli. Mereka lihat yang paling atas, ya udah diklik aja. Padahal itu iklan kompetitor. Jadi orang yang tadinya mau ke kamu, tanpa sadar masuk ke toko sebelah.
Kenapa kompetitor mau ngelakuin ini? Karena murah dan efektif buat mereka. Orang yang nyari nama brand kamu itu kan udah punya intensi beli, udah warm banget. Kompetitor tinggal numpang di intensi yang udah kamu bangun. Mereka gak perlu edukasi pasar dari nol, kamu yang udah ngerjain bagian capeknya, mereka tinggal panen di ujung. Itu yang bikin saya kadang gemes lihatnya, karena yang punya brand malah gak sadar lagi kebocoran ini terjadi tiap hari.
Dan ini bukan cuma soal brand gede. Brand kecil yang baru mulai dicari pun bisa kena. Begitu nama kamu mulai punya search volume, di situ kamu jadi target empuk. Makin laku brand kamu, makin menarik buat diserobot.
Cara amankan nama brand kamu di Google
Solusinya sebenarnya ada, dan gak ribet. Yang sering terjadi orang gak tahu aja kalau ini bisa dikerjain. Jadi gini, kalau kompetitor bisa pasang iklan di nama brand kamu, ya kamu juga harus pasang iklan di nama brand kamu sendiri. Ini namanya brand campaign, atau kampanye nama brand. Tujuannya supaya iklan kamu yang muncul paling atas pas orang nyari kamu, bukan iklan orang lain.
Banyak yang protes, “Ngapain bayar iklan buat nama brand sendiri? Kan orang udah cari saya, harusnya gratis.” Saya ngerti pikiran itu. Tapi coba kamu hitung. Kalau kamu gak pasang, kompetitor yang ambil slot teratas. Berapa banyak pembeli yang udah niat beli ke kamu, malah lari ke mereka? Biaya iklan brand kamu itu jauh lebih murah daripada budget yang boncos karena pembeli warm-mu diambil orang.
Ini langkah konkret yang bisa kamu kerjain, anggap kamu mulai dari nol:
- Cek dulu kondisinya. Buka Google, ketik nama brand kamu dengan mode incognito biar netral. Lihat yang muncul paling atas itu kamu atau kompetitor. Kalau ada label “Bersponsor” dan itu bukan kamu, berarti nama kamu lagi diserobot.
- Bikin satu kampanye khusus nama brand. Di Google Ads, buat kampanye Search terpisah, isinya kata kunci nama brand kamu dan variasinya. Misal nama brand plus “official”, nama brand plus “harga”, nama brand plus typo yang umum.
- Pakai exact match dan phrase match. Jangan broad match buat kampanye brand, nanti budget kamu malah kebakar ke kata kunci yang gak relevan. Yang kamu mau cuma orang yang emang nyari nama kamu.
- Arahkan ke halaman yang paling siap jual. Jangan ke homepage doang. Kalau orang cari brand kamu, arahkan ke halaman produk utama atau halaman yang gampang buat mereka langsung beli atau kontak.
- Set budget kecil dulu. Kampanye brand itu biasanya CPC-nya murah dan konversinya tinggi, karena orangnya udah warm. Mulai dari budget kecil, lihat hasilnya seminggu, baru sesuaikan.
Biasanya begitu kamu pasang kampanye brand, posisi iklan kamu naik ke atas dan harganya cenderung lebih murah dari kompetitor. Soalnya Google ngitung relevansi. Halaman kamu paling relevan dengan nama brand kamu sendiri, jadi quality score-nya tinggi, dan kamu bayar lebih sedikit untuk slot yang sama. Kompetitor harus bayar lebih mahal kalau mau ngalahin kamu di nama kamu sendiri. Jadi sebenarnya kamu lagi main di lapangan yang kamu menang dari awal.
Saya pribadi waktu pegang iklan beberapa brand teman, salah satu hal pertama yang saya cek ya ini, apakah nama brand-nya aman atau enggak. Anggap ini masa lalu ya, mungkin gak relevan buat kamu, tapi pola ini muncul terus, brand yang lupa amanin namanya sendiri itu pelan-pelan kehilangan pembeli yang harusnya gampang.
Yang sering dilewatkan dari urusan nama brand
Yang sering kelewat itu ada dua hal. Pertama, banyak orang mikir kampanye brand cukup dipasang sekali terus ditinggal. Padahal kompetitor itu dinamis. Hari ini mereka gak bidding nama kamu, bulan depan bisa jadi mereka mulai. Jadi kondisinya berubah-ubah. Kamu perlu sesekali cek lagi, nama brand kamu masih aman atau ada pemain baru yang mulai nyerobot.
Kedua, ini yang lebih dalam. Kebocoran nama brand itu cuma gejala. Akarnya sebenarnya soal apakah kamu beneran ngitung perjalanan pembeli kamu dari awareness sampai beli. Banyak yang fokus banget di bagian atas, bikin konten, bikin awareness, biar brand dikenal. Tapi pas udah dikenal dan orang mulai nyari, justru bagian itu gak dijagain. Jadi air yang udah kamu pompa naik, bocor di kran terakhir.
Dan ini gak cuma berlaku di Google. Coba kamu pikir, pas orang nyari brand kamu di marketplace, di Instagram, di mana-mana, siapa yang muncul? Apakah kamu yang muncul, atau kompetitor yang lebih rajin? Amanin nama brand di Google itu satu langkah, tapi mindset-nya yang penting, jagain titik-titik di mana pembeli udah deket banget sama kamu. Di situ duitnya paling gampang, dan di situ juga paling sering bocor tanpa ketahuan.
Kalau kamu mau brand kamu gak terus-terusan jadi sapi perah buat kompetitor, mulai dari satu hal kecil hari ini, cek dulu nama brand kamu di Google, terus amanin.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang — ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id — ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara cek apakah nama brand saya diserobot kompetitor di Google?
Buka Google pakai mode incognito biar hasilnya netral, lalu ketik nama brand kamu. Lihat hasil paling atas yang ada label “Bersponsor”. Kalau yang muncul di situ kompetitor dan bukan kamu, berarti nama brand kamu lagi diserobot dan perlu kamu amankan.
Berapa lama sampai kampanye nama brand mulai kelihatan hasilnya?
Biasanya cukup cepat, dalam hitungan hari sampai satu minggu iklan kamu sudah bisa naik ke posisi teratas. Karena halaman kamu paling relevan dengan nama brand sendiri, quality score-nya tinggi, jadi iklan kamu cepat muncul dan biayanya cenderung murah.
Apakah saya tetap perlu bayar iklan padahal orang sudah cari nama brand saya?
Iya, sayangnya perlu kalau kompetitor juga bidding di nama kamu. Tanpa kampanye brand, slot teratas bisa diambil kompetitor, dan pembeli yang sudah niat beli ke kamu malah lari ke mereka. Biaya iklan brand biasanya jauh lebih murah daripada kehilangan pembeli warm itu.
Apa bedanya kampanye nama brand dengan kampanye iklan biasa?
Kampanye nama brand cuma menargetkan orang yang sudah nyari nama brand kamu, jadi audiensnya warm dan konversinya tinggi dengan biaya rendah. Kampanye biasa menargetkan orang yang nyari produk atau kebutuhan secara umum, yang masih perlu diedukasi dulu, jadi biayanya lebih besar.
Saya brand kecil dan budget tipis, apakah ini gak buang-buang uang?
Justru buat brand kecil ini penting, karena begitu nama kamu mulai dicari, kamu jadi target empuk untuk diserobot. Mulai dari budget kecil saja dulu, karena CPC kampanye brand biasanya murah. Hitung saja, kehilangan pembeli yang sudah warm itu jauh lebih mahal daripada budget kecil yang kamu keluarkan.
