Coba kamu lihat lagi angka di halaman jualan kamu. Misal ada 100 orang masuk hari ini, yang beli mungkin cuma 2 atau 3 orang. Sisanya 97 orang itu pergi, dan kebanyakan dari kita anggap mereka itu hilang, padahal enggak. Mereka cuma belum siap aja hari itu.
Saya sendiri kalau mau beli sesuatu yang lumayan, jarang banget langsung checkout di kunjungan pertama. Saya lihat-lihat dulu, saya tutup tab-nya, besok baru kepikiran lagi. Dan ini bukan saya doang, ini hampir semua orang begitu. Jadi kalau bisnis kamu cuma mengandalkan orang beli di detik pertama mereka datang, ya kamu lagi buang sebagian besar orang yang sebenarnya tertarik tapi cuma butuh disusul.
Masalahnya: kita berhenti di satu kali ketemu
Yang sering terjadi gini. Kita capek-capek pasang iklan, capek-capek bikin konten, orang akhirnya datang ke landing page atau ke toko kita. Terus apa? Kalau mereka gak beli saat itu juga, ya udah, selesai. Gak ada yang nyusul. Gak ada yang nanyain. Orangnya pergi dan kita gak punya cara buat ngomong sama dia lagi.
Ini masalah yang mahal banget kalau dipikir-pikir. Karena uang iklan yang kamu keluarin buat datangin orang itu kan udah kebayar di depan. Orangnya udah datang, udah lihat produk kamu, udah ada ketertarikan sedikit. Tapi gara-gara dia gak beli detik itu, kamu anggap dia gak ada. Padahal yang dia butuhin cuma waktu, atau jawaban atas satu keraguan kecil yang gak sempat kejawab.
Saya lihat banyak solopreneur stuck di sini. Mereka pikir solusinya adalah datangin orang lebih banyak lagi, pasang iklan lebih gede lagi. Padahal lubangnya bukan di situ. Lubangnya ada di orang-orang yang udah datang tapi gak disusul. Kamu udah bayar buat datangin mereka, masa iya cuma dikasih satu kesempatan terus dilepas. Itu kayak kamu tanam bibit, tumbuh dikit, terus ditinggal gak disiram. Ya mati.
Orang gak beli di kunjungan pertama itu normal, bukan tanda produk kamu jelek. Tapi kalau kamu gak punya cara buat nyusul, itu baru masalah beneran.
Cara nyusul lewat email follow-up yang masuk akal
Oke jadi sekarang gimana cara nyusulnya. Yang paling murah dan paling bisa kamu kontrol sendiri itu email follow-up. Kenapa email? Karena dia kamu yang punya, gak tergantung algoritma, dan kamu bisa kirim kapan aja ke orang yang udah pernah kasih kontaknya. Iklan retargeting boleh, tapi itu kamu sewa terus. Email follow-up itu aset yang kamu pegang sendiri.
Tapi syarat pertamanya satu: kamu harus dapat email mereka dulu sebelum mereka pergi. Makanya di halaman kamu jangan cuma ada tombol beli. Kasih juga alasan buat orang ninggalin email walaupun belum siap beli. Misal panduan gratis, checklist, atau diskon kecil yang dikirim ke email. Jadi orang yang belum siap beli pun tetap masuk ke daftar kamu, dan kamu masih bisa ngobrol sama dia.
Nah kalau emailnya udah dapat, ini urutan email follow-up yang biasanya masuk akal dijalanin:
- Email pertama, kirim dalam beberapa jam atau hari yang sama. Jangan langsung jualan. Kasih dulu apa yang kamu janjiin tadi, panduan atau checklist-nya. Tujuannya bikin orang inget kamu dan ngerasa udah dapat sesuatu yang berguna duluan.
- Email kedua, sehari atau dua hari kemudian. Di sini kamu cerita masalah yang produk kamu selesaikan. Bukan fitur produknya, tapi masalah orangnya. Orang beli karena masalahnya kebayang kelar, bukan karena daftar fitur.
- Email ketiga, jawab keraguan. Ini yang paling sering dilewatin orang. Tulis pertanyaan yang biasanya bikin orang ragu beli, terus jawab jujur. Soal harga, soal apakah cocok buat dia, soal takut gak kepakai. Keraguan yang gak kejawab itu yang nahan orang beli.
- Email keempat, kasih bukti. Cerita orang lain yang udah pakai dan hasilnya gimana. Atau cerita kamu sendiri waktu pakai. Yang penting nyata, jangan dibesar-besarin. Saya pribadi gak suka copywriting yang over-claim, itu malah bikin orang curiga.
- Email kelima, baru ajakan beli yang jelas. Di titik ini orang udah kenal kamu, udah ngerti masalahnya, udah lihat bukti. Baru kamu ajak ambil keputusan. Boleh kasih batas waktu yang beneran, bukan urgensi bohong. Misal harga promo yang memang akan naik, bukan countdown palsu yang besok di-reset lagi.
Yang perlu kamu pegang, email follow-up ini bukan soal ngejar-ngejar orang sampai risih. Ini soal nemenin orang dari “saya tertarik tapi belum yakin” sampai “oke saya siap”. Sebagian orang butuh 2 email, sebagian butuh 5, sebagian butuh lebih. Kamu gak tahu mana yang mana, makanya urutannya yang kamu siapin, biar jalan otomatis tanpa kamu harus ketik manual satu-satu.
Dan ini bagusnya buat kita yang waktunya terbatas. Sekali kamu tulis urutan email ini, dia jalan sendiri buat setiap orang baru yang masuk. Kamu tidur pun follow-up tetap jalan. Itu yang bikin email follow-up ini cocok banget buat solopreneur yang gak bisa standby 24 jam.
Yang sering dilewatkan: timing dan satu masalah per email
Ada dua hal yang sering banget dilewatin orang waktu bikin email follow-up, dan dua-duanya kelihatan sepele tapi efeknya kerasa.
Pertama soal timing. Banyak orang nulis email follow-up tapi kirimnya kelamaan. Orang masuk daftar hari ini, email pertama baru dikirim seminggu kemudian. Ya udah lupa orangnya kamu siapa. Momen paling panas itu justru beberapa jam pertama setelah orang ninggalin kontaknya, karena di situ dia masih inget kamu. Jadi email pertama itu jangan ditunda. Sisanya boleh dijarakin sehari dua hari, tapi yang pertama harus cepat.
Kedua, satu email satu masalah. Saya sering lihat orang jejelin semua hal di satu email. Diskon, fitur, bukti, ajakan beli, semua ditumpuk jadi satu. Ujung-ujungnya orang baca setengah terus tutup, karena kebanyakan. Mending satu email fokus ke satu hal aja. Email jawab keraguan ya jawab keraguan, jangan dicampur jualan. Email cerita masalah ya cerita masalah aja. Lebih pendek, lebih kebaca, lebih nyantol.
Ada satu hal lagi yang lebih dalam dari sekadar urutan email, yaitu gimana kamu nulis emailnya supaya kebuka dan kebaca, bukan langsung masuk tong sampah. Itu bagian sendiri yang lumayan panjang, tapi kalau dua hal di atas aja kamu beresin dulu, kamu udah jauh di depan kebanyakan orang yang malah gak follow-up sama sekali.
Intinya, orang gak beli di kunjungan pertama itu bukan akhir cerita, itu baru awal kalau kamu punya cara buat nyusulnya.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang — ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id — ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara mulai bikin email follow-up kalau saya belum punya daftar email sama sekali?
Mulai dari pasang satu alasan buat orang ninggalin emailnya di halaman kamu, misal panduan gratis atau diskon kecil. Begitu ada yang masuk, kamu udah bisa kirim email pertama. Gak usah nunggu daftarnya gede, mulai aja dari satu dua orang dulu.
Berapa lama jeda antar email follow-up yang ideal?
Email pertama kirim secepatnya, beberapa jam atau di hari yang sama saat orang masuk. Sisanya kasih jarak sehari sampai dua hari per email. Yang penting jangan kelamaan diam sampai orang lupa kamu siapa.
Apakah email follow-up masih efektif sekarang, bukannya orang jarang buka email?
Masih, asal isinya berguna dan gak cuma jualan terus. Email itu aset yang kamu pegang sendiri, gak tergantung algoritma media sosial. Yang bikin gak kebuka biasanya karena isinya membosankan, bukan karena emailnya udah mati.
Apa bedanya email follow-up sama iklan retargeting?
Iklan retargeting itu kamu sewa terus, berhenti bayar ya berhenti jalan. Email follow-up itu aset yang kamu punya sendiri dan bisa kamu kirim kapan aja tanpa biaya per pengiriman. Keduanya bisa jalan bareng, tapi email lebih bisa kamu kontrol.
Saya takut email follow-up bikin orang ilfeel karena ngerasa dikejar-kejar, gimana?
Wajar mikir gitu, tapi yang bikin orang ilfeel itu kalau isinya jualan melulu dari email pertama. Kalau kamu kasih hal berguna dulu, jawab keraguan, baru ajak beli di akhir, orang malah ngerasa dibantu. Bedanya ada di niat, nemenin orang ambil keputusan, bukan maksa.
