Waktu pertama kali mau pasang iklan, hal yang paling sering bikin orang macet itu bukan soal bikin kontennya, bukan soal targeting. Yang bikin macet itu pertanyaan sederhana, mau set budget berapa sehari. Saya lihat banyak yang akhirnya nentuin angka asal, kadang kekecilan sampai iklannya gak gerak, kadang kegedean sampai uangnya habis dalam dua hari dan langsung trauma gak mau coba lagi.
Padahal angka budget harian itu bukan tebakan. Ada cara mikirnya, dan begitu kamu ngerti cara mikirnya, kamu gak akan lagi nentuin angka sambil deg-degan. Saya mau share cara yang saya pakai sendiri ketika ngelola ad spend buat brand teman, dan ini juga yang saya pakai pas testing produk digital saya sendiri. Anggap aja angka-angka lama saya itu masa lalu, mungkin gak relevan untuk kondisi kamu, tapi cara mikirnya saya rasa tetap berguna.
Kenapa Nentuin Budget Harian Iklan Itu Bikin Banyak Orang Stuck
Masalahnya gini. Kebanyakan orang nentuin budget harian iklan dari perasaan, bukan dari angka. Mereka mikir, oh saya beraninya 50 ribu sehari, ya udah 50 ribu. Atau sebaliknya, lihat orang lain pasang 500 ribu sehari katanya cepat dapat hasil, ya udah ikut 500 ribu juga, padahal modalnya belum tentu kuat.
Dua-duanya sama bahayanya. Kalau budget kamu kekecilan, sistem iklannya gak punya cukup data buat belajar siapa yang cocok sama produk kamu. Jadi iklannya kelihatan jalan, uang kepotong tiap hari, tapi gak ada penjualan yang masuk. Bukan karena produknya jelek, tapi karena mesinnya belum sempat panas. Ini yang sering bikin orang nyimpulin “ah iklan gak work buat saya”, padahal yang salah cuma angka di awal.
Kalau budget kamu kegedean di awal, masalahnya beda. Kamu belum tahu mana konten yang nyangkut, mana audience yang beli, tapi kamu udah gas pol. Jadi kamu bakar uang banyak cuma buat dapat jawaban yang sebenarnya bisa kamu dapat dengan uang lebih sedikit. Boncos di fase ini sakitnya dobel, karena kamu kehilangan uang sekaligus kehilangan keberanian buat lanjut.
Jadi sebenarnya bukan soal angkanya besar atau kecil. Tapi soal apakah angka itu masuk akal dengan tujuan kamu di fase ini, yaitu fase belajar, bukan fase panen.
Cara Nentuin Angkanya dari Harga Produk Kamu, Bukan dari Perasaan
Logikanya simpel. Budget harian iklan pertama kamu itu jangan dikira-kira dari “berani rugi berapa”, tapi dihitung dari harga produk yang kamu jual. Karena tujuan di awal bukan langsung untung, tapi cari tahu berapa biaya yang kamu butuh buat dapat satu pembeli. Angka itu namanya biaya per pembelian, dan itu data paling penting yang harus kamu kejar duluan.
Begini cara saya nentuin angka awalnya, step by step:
- Lihat harga jual produk kamu. Misal produk kamu harganya 150 ribu. Catat angka ini, karena semua keputusan budget ngikut dari sini.
- Tentuin berapa kamu rela bayar buat satu pembeli. Kalau untung kotor kamu dari produk 150 ribu itu sekitar 100 ribu, berarti selama biaya dapat satu pembeli masih di bawah 100 ribu, kamu masih sehat. Buat fase belajar, anggap kamu rela keluar sampai 50 ribu buat satu penjualan. Itu masih aman.
- Kali tiga sampai lima. Set budget harian sekitar tiga sampai lima kali dari angka “rela bayar per pembeli” tadi. Jadi kalau kamu rela 50 ribu per pembeli, set budget harian kamu di kisaran 150 sampai 250 ribu. Kenapa dikali segitu, karena kamu butuh ruang buat dapat minimal beberapa penjualan dalam sehari supaya datanya kebaca, bukan cuma satu yang bisa jadi kebetulan.
- Pakai angka itu konsisten minimal 3 sampai 7 hari. Jangan diutak-atik tiap beberapa jam. Iklan butuh waktu buat ngumpulin data. Kamu ngintip tiap jam itu sama aja kayak nyabut bibit jagung tiap pagi buat ngecek akarnya sudah tumbuh apa belum. Ya gak akan tumbuh, malah mati.
- Catat tiga angka aja tiap hari. Berapa yang kebelanja, berapa orang yang klik, berapa yang beli. Dari situ kamu bisa hitung biaya per pembeli kamu beneran berapa. Inilah data yang kamu beli pakai budget itu.
Nah kalau kamu modalnya benar-benar tipis, gak apa-apa mulai dari yang kecil dulu, tapi pahami konsekuensinya. Misal kamu cuma sanggup 50 ribu sehari, ya udah jalanin, cuma datanya bakal lebih lambat ngumpul. Mungkin kamu butuh 10 sampai 14 hari buat dapat gambaran yang sama, yang harusnya bisa kebaca dalam 5 hari kalau budgetnya lebih lega. Jadi bukan gak boleh kecil, cuma kamu harus sabar lebih lama. Itu trade-off yang harus kamu sadar dari awal, jangan sampai baru 3 hari udah nyerah padahal budgetnya emang sengaja kecil.
Yang Sering Dilewatkan, Kapan Sebenarnya Kamu Boleh Naikin
Ini bagian yang jarang dibahas, dan jujur ini yang paling sering bikin orang malah ngerusak iklan yang tadinya sudah jalan. Banyak yang begitu lihat satu hari hasilnya bagus, langsung besoknya naikin budget dua tiga kali lipat. Niatnya mau cepat gede, hasilnya malah hasil bagusnya ilang. Kenapa, karena sistem iklannya jadi harus belajar ulang dari awal pas budgetnya dilonjakin terlalu drastis.
Patokan yang saya pakai, naikin budget itu cuma kalau dua hal ini sudah ketemu bareng. Pertama, biaya per pembeli kamu sudah stabil di angka yang kamu untung, bukan cuma bagus sehari dua hari, tapi konsisten beberapa hari berturut-turut. Kedua, kamu naikinnya pelan, sekitar 20 sampai 30 persen dari budget sebelumnya, terus kasih jeda lagi beberapa hari buat lihat apakah angka untungnya masih bertahan di budget yang lebih besar.
Jadi naikin budget itu bukan reaksi kamu pas senang lihat penjualan masuk. Naikin budget itu keputusan yang kamu ambil pelan-pelan setelah yakin pondasinya kuat. Kamu mau panen jagung, ya kamu rawat dulu tanamannya sampai benar-benar siap, bukan langsung tarik semua sekaligus pas baru lihat satu daun tumbuh.
Yang sering kelewat juga, kadang angka yang naik bukan berarti kamu harus naikin budget. Bisa jadi yang kamu butuh malah ganti atau tambah konten, bukan tambah uang. Tapi itu cerita buat lain kali.
Mulai aja dari angka yang masuk akal sama produk kamu, kasih waktu buat datanya ngomong, baru naikin pelan-pelan kalau pondasinya sudah kelihatan.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang — ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id — ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara nentuin budget harian iklan kalau saya belum tahu untung kotor produk saya berapa?
Hitung dulu untung kotor kamu, yaitu harga jual dikurangi biaya produk dan ongkos kirim yang kamu tanggung. Angka itu jadi batas atas berapa kamu boleh keluar buat dapat satu pembeli. Kalau belum tahu angka ini, jangan pasang iklan dulu, karena kamu gak akan bisa nilai iklannya untung atau boncos.
Berapa lama saya harus jalanin budget awal sebelum ambil kesimpulan?
Minimal 3 sampai 7 hari kalau budgetnya cukup lega, dan bisa 10 sampai 14 hari kalau budgetnya kecil. Jangan ambil kesimpulan dari hasil satu dua hari, karena data sependek itu sering nipu. Kasih waktu sistemnya ngumpulin cukup penjualan dulu baru baca angkanya.
Apakah budget harian yang kecil tetap bisa berhasil?
Bisa, asal kamu sadar konsekuensinya datanya ngumpul lebih lambat. Budget kecil bukan masalah selama produk dan kontennya cocok, kamu cuma butuh lebih sabar nunggu jawabannya. Yang bahaya itu budget kecil tapi kamu nuntut hasil secepat orang yang budgetnya besar.
Apa bedanya naikin budget dengan ganti konten kalau iklan mulai melambat?
Naikin budget itu buat ngegasin sesuatu yang sudah terbukti untung, sedangkan ganti konten itu buat benerin sesuatu yang mulai capek dilihat orang. Kalau biaya per pembeli kamu naik padahal budget tetap, biasanya itu sinyal kontennya yang perlu disegarkan, bukan uangnya yang perlu ditambah.
Saya takut rugi, mending nunggu sampai benar-benar yakin baru pasang iklan?
Nunggu sampai benar-benar yakin itu sering jadi alasan buat gak mulai sama sekali, dan kamu gak akan pernah yakin tanpa data nyata. Mulai aja dari angka kecil yang kamu sanggup rugiin, anggap itu biaya belajar. Berapa banyak peluang yang lewat kalau kamu nunggu terus, itu juga kerugian yang gak kelihatan.
