Saya pernah lihat orang launch produk digital, hari pertama rame banget, masuk puluhan order, story-nya penuh notifikasi transfer. Dia seneng, saya juga ikut seneng. Tapi tiga bulan kemudian saya tanya, “gimana produknya?” Jawabannya, “udah sepi bang, gak ada yang beli lagi.” Rame di awal, terus mati.
Ini kejadian yang sering banget. Dan saya paham kenapa bikin bingung. Karena dari luar, produk yang rame sehari sama produk yang laku bertahun-tahun itu kelihatan sama persis di hari launch. Bedanya baru ketahuan beberapa minggu kemudian, waktu yang satu masih jalan dan yang satu udah diem. Yang nentuin bedanya itu bukan hari launch-nya, tapi hal-hal yang justru gak kelihatan.
Ramai di Awal Itu Belum Tentu Tanda Sehat
Banyak orang salah baca sinyal. Mereka pikir kalau hari pertama rame, berarti produknya bagus dan bakal terus laku. Padahal rame di hari pertama itu seringnya datang dari hal yang gak bisa diulang. Misalnya, kamu launch ke semua teman dan follower yang udah lama nungguin. Mereka beli karena penasaran, karena kenal kamu, karena momen launch-nya bikin semangat. Itu bagus, tapi itu sekali pakai. Begitu antusiasme awal habis, kalau gak ada yang ngegantiin, ya sepi.
Saya sendiri pernah ngerasain bedanya. Ebook pertama saya soal turun berat badan itu kebeli sampai seribu lebih pembaca, dan itu gak terjadi cuma di hari launch. Dia terus jalan karena topiknya masalah yang gak pernah berhenti dicari orang, dan ada cara orang baru terus nemuin produknya. Bukan karena saya bikin heboh sehari doang.
Jadi pertanyaannya bukan “gimana caranya rame di hari launch”. Tapi “setelah orang-orang pertama ini habis, dari mana pembeli berikutnya datang”. Produk yang laku bertahun-tahun punya jawaban untuk pertanyaan itu. Produk yang mati setelah seminggu, enggak.
Tiga Hal yang Bikin Produk Terus Laku
Dari yang saya amati, produk yang umurnya panjang itu hampir selalu punya tiga hal ini. Kamu bisa cek produk kamu sendiri pakai daftar ini.
Satu, nyelesain masalah yang gak ada matinya. Masalah yang orang cari solusinya terus-terusan, tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi. Cara turun berat badan, cara mulai jualan online, cara bikin anak mau makan. Masalah-masalah ini gak pernah basi. Bandingin sama produk yang nempel ke tren sesaat, rame pas tren-nya panas, mati pas tren-nya lewat. Kalau produk kamu jawab masalah abadi, kamu punya pondasi buat laku lama.
Dua, ada jalan masuk yang terus mengalir. Produk yang laku lama itu selalu punya sumber orang baru yang terus nemuin dia. Bisa dari konten yang kamu posting rutin, bisa dari artikel yang muncul di pencarian, bisa dari iklan yang jalan, bisa dari pembeli lama yang ngajak temannya. Produk yang mati biasanya cuma ngandelin satu ledakan di hari launch, terus gak ada lagi orang baru yang masuk. Tanpa aliran orang baru, produk sebagus apapun akan sepi.
Tiga, pembelinya dapat hasil, jadi mereka cerita. Ini yang sering dilupain. Kalau orang beli produk kamu terus beneran dapat hasil, mereka akan cerita ke orang lain, kasih testimoni, ngajak teman. Itu jadi mesin jualan yang jalan sendiri. Tapi kalau produk kamu cuma bagus di halaman jualan tapi isinya gak benerin bikin orang berhasil, gak akan ada cerita yang nyebar. Produk yang laku lama itu produk yang beneran kerja, bukan cuma yang jago dijual.
Coba lihat produk kamu. Masalahnya abadi atau musiman? Ada aliran orang baru atau cuma ledakan sekali? Pembelinya dapat hasil sampai mau cerita atau enggak? Tiga jawaban ini udah ngasih kamu gambaran jelas produk kamu tipe yang mana.
Yang Sering Dilewatkan: Apa yang Terjadi Setelah Orang Beli
Sampai sini kebanyakan orang fokusnya cuma sampai titik orang transfer. Padahal yang nentuin produk kamu laku lama atau enggak justru kejadian setelah itu, di bagian yang gak kelihatan dari luar.
Maksud saya, apa yang pembeli alami setelah masuk. Apakah mereka beneran jalanin, beneran dapat hasil, beneran ngerasa puas sampai mau balik beli produk kamu yang lain. Di sinilah satu pembeli bisa berubah jadi banyak pembeli, lewat cerita mereka dan lewat pembelian berikutnya. Cara nyusun pengalaman setelah beli ini, plus gimana kamu nyiapin produk lanjutan supaya orang yang udah percaya bisa beli lagi dari kamu, itu lapisan yang lebih dalam dan paling jarang dipikirin pemula. Tapi tiga hal di atas sudah cukup buat kamu nilai sekarang, apakah produk kamu dirancang buat laku lama atau cuma buat rame sehari.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Jadi jangan kejar rame sehari, kejar laku bertahun. Masalah yang abadi, aliran orang baru yang terus jalan, dan pembeli yang beneran dapat hasil. Saya, Hendra Kuang, lebih milih produk yang pelan tapi terus jalan daripada yang meledak sekali terus diem. Coba nilai produk kamu pakai tiga hal tadi hari ini, dan kamu bakal tahu bagian mana yang perlu kamu benerin.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara tahu produk saya tipe yang laku lama atau cuma ramai sesaat?
Cek tiga hal: apakah masalah yang kamu selesaikan dicari orang terus-menerus, apakah ada sumber orang baru yang mengalir, dan apakah pembeli dapat hasil sampai mau bercerita. Kalau ketiganya ada, produk kamu cenderung tahan lama. Kalau hanya mengandalkan ledakan hari launch, biasanya akan cepat sepi.
Berapa lama biasanya produk yang cuma ramai di awal mulai sepi?
Umumnya dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah antusiasme awal habis, terutama kalau tidak ada aliran orang baru. Begitu pembeli dari lingkaran terdekat sudah terpakai semua, penjualan melambat. Tanpa sumber pembeli baru, penurunan itu hampir pasti terjadi.
Apakah produk yang mengikuti tren pasti cepat mati?
Tidak selalu, tapi produk yang menempel pada tren sesaat memang berisiko sepi begitu trennya lewat. Kalau kamu mau memakai tren, sambungkan ke masalah yang lebih abadi supaya tetap relevan setelah trennya reda. Tren bagus untuk lonjakan awal, tapi bukan pondasi untuk umur panjang.
Apa bedanya produk yang jago dijual dengan produk yang benar-benar bekerja?
Produk yang jago dijual unggul di halaman penjualan, sedangkan produk yang bekerja membuat pembeli benar-benar dapat hasil. Yang pertama bisa ramai sekali, tapi hanya yang kedua yang menghasilkan testimoni dan rekomendasi yang menyebar. Untuk laku bertahun-tahun, kamu butuh keduanya, bukan salah satu saja.
Saya sudah terlanjur punya produk yang sepi, apakah masih bisa diselamatkan?
Sering kali masih bisa, asal masalah yang diselesaikan memang nyata dan dicari orang. Coba perbaiki dari mana orang baru bisa menemukan produkmu dan pastikan pembeli benar-benar dapat hasil. Banyak produk yang dikira mati sebenarnya cuma kehilangan aliran pembeli baru, bukan kehilangan nilainya.
