Ada yang nanya ke saya, “Bang, enaknya saya bikin ebook, kelas online, atau template ya?” Saya balik tanya, “kamu punya waktu berapa jam seminggu, dan kamu lebih nyaman ngajar lewat tulisan atau ngomong?” Dia bingung, karena dia kira pertanyaan saya bakal soal mana yang paling cuan. Padahal format produk pertama itu bukan soal mana yang paling menghasilkan, tapi mana yang paling mungkin kamu selesaikan dengan kondisi kamu sekarang.
Saya lihat banyak orang milih format karena lagi tren. Lagi rame orang jualan kelas, dia ikut bikin kelas. Padahal dia gak punya waktu buat ngajar live tiap minggu, gak nyaman di depan kamera, dan akhirnya kelasnya gak kelar-kelar. Produk terbaik di dunia gak ada gunanya kalau gak pernah jadi.
Format yang Salah Bikin Produk Gak Pernah Selesai
Masalah paling umum yang saya lihat bukan orang salah pilih topik, tapi salah pilih format. Mereka ambil format yang gak cocok sama hidup mereka, terus mandek di tengah jalan. Bikin kelas video padahal benci ngedit. Bikin ebook 100 halaman padahal nulis satu paragraf aja udah pusing. Bikin membership padahal gak sanggup ngisi konten tiap minggu.
Saya selalu mikir soal ini dari kacamata waktu. Waktu saya sehari paling cuma 2 sampai 4 jam buat kerja, karena saya milih hadir buat anak. Jadi kalau saya bikin produk yang nuntut saya standby tiap hari, itu gak akan jalan buat saya. Saya harus pilih format yang sekali bikin, bisa dijual berkali-kali tanpa saya harus hadir terus. Kondisi kamu mungkin beda, dan itu justru poinnya. Format harus ngikutin kondisi kamu, bukan sebaliknya.
Jadi sebelum mikir format mana yang paling cuan, tanya dulu: format mana yang realistis saya selesaikan dan jalanin dengan waktu dan gaya saya sekarang? Produk yang selesai dan sederhana selalu menang dari produk ambisius yang gak pernah kelar.
Cara Milih Format dari Kondisi Kamu
Daripada milih dari tren, pilih dari tiga pertanyaan ini. Jawaban kamu bakal langsung ngarahin ke format yang paling masuk akal.
Satu, kamu punya berapa banyak waktu, dan sekali bikin atau terus-terusan? Kalau waktu kamu sempit dan kamu mau yang sekali bikin terus bisa dijual berulang, pilih format yang “jadi sekali, jual selamanya” seperti ebook, template, atau kelas rekaman. Kalau kamu punya waktu rutin tiap minggu dan suka interaksi, format seperti membership atau kelas berjalan bisa cocok. Jujur sama diri sendiri soal waktu, jangan pilih sesuatu yang kamu tahu gak sanggup kamu jaga.
Dua, kamu lebih kuat di mana, nulis, ngomong, atau bikin alat? Kalau kamu nyaman nulis, ebook atau panduan tertulis paling cepat kamu selesaikan. Kalau kamu lebih lancar ngomong daripada nulis, rekam aja jadi video atau audio, itu kelas. Kalau kekuatan kamu di nyusun sistem yang rapi, template atau tools yang langsung dipakai orang itu sangat berharga dan sering paling cepat dibikin. Main di kekuatan kamu, jangan maksain yang bukan gaya kamu.
Tiga, pembeli kamu maunya cepat dapat hasil atau mau dibimbing dalam? Kalau masalah mereka spesifik dan mereka mau solusi cepat, produk kecil dan langsung pakai seperti template atau panduan singkat itu pas. Kalau mereka butuh transformasi yang lebih dalam dan mau dibimbing, kelas atau program yang lebih panjang lebih cocok. Format ngikutin seberapa besar masalah yang kamu selesaikan.
Gabungin tiga jawaban itu. Misal: waktu sempit, kuat nulis, pembeli mau solusi cepat? Ebook atau panduan tertulis adalah produk pertama yang paling masuk akal buat kamu. Mulai dari yang realistis, bukan dari yang keren.
Yang Sering Dilewatkan: Produk Pertama Bukan Produk Terakhir
Di sini orang sering kepikiran terlalu jauh. Mereka pengen produk pertamanya langsung yang besar, lengkap, sempurna, sampai gak mulai-mulai. Padahal produk pertama itu cuma pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Yang sering gak kelihatan adalah, produk pertama yang kecil dan selesai itu ngasih kamu hal yang gak bisa kamu dapat dari rencana di kepala: pembeli nyata, masukan nyata, dan kepercayaan diri buat bikin yang berikutnya. Dari satu produk kecil, kamu bisa kenal pembeli kamu, terus bangun produk-produk lanjutan yang nyambung jadi satu rangkaian. Gimana cara nyusun produk-produk itu jadi satu jalur yang bikin pembeli naik dari yang murah ke yang lebih besar, itu pembahasan tersendiri yang lebih dalam. Tapi tiga pertanyaan di atas sudah cukup buat kamu mutusin format produk pertama dan mulai, bukan kelamaan mikir.
Kalau kamu mau jalan lebih jauh dari ini:
DM saya langsung di Instagram @hendrakuang ceritain kondisi bisnis kamu sekarang, dan saya bantu kamu lihat langkah yang paling masuk akal berikutnya.
Atau kalau kamu lebih suka mulai dari sistemnya dulu, cek parentpreneur.id ada tools dan framework yang sudah saya pakai sendiri.
Jadi jangan pilih format karena lagi tren atau karena katanya paling cuan. Pilih yang paling realistis kamu selesaikan dengan waktu, kekuatan, dan kondisi kamu sekarang. Saya, Hendra Kuang, milih format yang sekali bikin bisa dijual berulang justru karena waktu saya terbatas, dan itu keputusan dari kondisi nyata, bukan dari tren. Coba jawab tiga pertanyaan tadi hari ini, dan kamu bakal tahu produk pertama kamu sebaiknya berbentuk apa.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana cara memilih antara ebook, kelas, atau template untuk produk pertama?
Pilih berdasarkan waktu yang kamu punya, kekuatan kamu, dan kebutuhan pembeli, bukan berdasarkan tren. Kalau waktu sempit dan kamu kuat menulis, ebook biasanya paling realistis. Kalau kamu kuat menyusun sistem, template sering paling cepat selesai dan langsung berguna.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat produk digital pertama?
Tergantung formatnya, tapi produk pertama sebaiknya dibuat sesederhana mungkin supaya cepat selesai, misalnya hitungan minggu, bukan bulan. Semakin lama proses pembuatan, semakin besar peluang kamu menyerah di tengah jalan. Lebih baik produk kecil yang selesai daripada produk besar yang mangkrak.
Apakah format yang sedang tren lebih baik untuk dipilih?
Tidak otomatis lebih baik, karena format yang tren belum tentu cocok dengan waktu dan gaya kamu. Banyak produk gagal selesai justru karena memaksakan format yang sedang ramai tapi tidak sesuai kondisi pembuatnya. Pilih yang bisa kamu selesaikan dan jaga, bukan yang sekadar populer.
Apa bedanya produk sekali bikin dengan produk yang berjalan terus?
Produk sekali bikin seperti ebook atau kelas rekaman dibuat satu kali lalu dijual berulang tanpa kehadiran kamu terus-menerus. Produk yang berjalan terus seperti membership menuntut kamu mengisi konten atau berinteraksi secara rutin. Pilih sesuai seberapa banyak waktu rutin yang sanggup kamu berikan.
Saya tidak nyaman tampil di kamera, apakah masih bisa bikin produk digital?
Tentu bisa, karena banyak format yang sama sekali tidak butuh kamu tampil, seperti ebook, panduan tertulis, template, atau audio. Kamu bisa mengajar lewat tulisan atau suara saja tanpa wajah. Pilih format yang main di kekuatan kamu, bukan yang membuat kamu tidak nyaman.
