Cara Menyelipkan Humor Ringan di Email Follow-up untuk Calon Pembeli yang Belum Beli

Cara menyelipkan humor di email follow-up adalah menaruh satu lelucon ringan dari keseharian pembeli di awal email, lalu menyambungkannya ke satu alasan belum beli dan satu langkah berikutnya. Humornya berfungsi sebagai pembuka. Isi email tetap tugas utamanya, yaitu membantu orang menyelesaikan keputusan.
Bagian dari playbook: Playbook Konten dan Copywriting dengan AI
Intinya:
- Keputusan membuka email berikutnya banyak dipengaruhi rasa yang tertinggal dari email sebelumnya, jadi satu senyum kecil ikut membangun kebiasaan membuka.
- Humor yang cocok untuk email recovery checkout lahir dari niche pembeli, karena lelucon itu sekaligus menunjukkan kamu paham keseharian mereka.
- Ukur dampaknya lewat klik, balasan, unsubscribe dan laporan spam, karena angka open rate sekarang sering tidak akurat.
Coba kamu bayangin dua toko online bahan kue, misalnya. Dua-duanya punya calon pembeli yang sudah isi keranjang, masuk checkout, lalu menghilang.
Toko pertama mengirim tiga email. Isinya mirip semua: “Pesananmu belum selesai”, “Jangan sampai kehabisan”, “Ini pengingat terakhir”. Di email ketiga, pembaca sudah tahu isinya cuma dari baris subjek. Jadi buat apa dibuka?
Toko kedua membuka email keduanya begini: “Adonan yang didiamkan sejam bisa mengembang sendiri. Keranjang belanja yang didiamkan, sayangnya, tidak ikut mengembang. Tapi tenang, isinya masih aman.” Setelah itu baru masuk ke satu hal yang sering bikin orang ragu, lalu satu tombol.
Bedanya kecil. Tapi pembaca toko kedua menyimpan satu memori: email dari toko ini kadang bikin senyum. Memori itu yang ikut bekerja waktu email berikutnya masuk.
Kenapa email follow-up ketiga makin jarang dibuka?
Email recovery checkout adalah rangkaian email otomatis untuk orang yang sudah mulai checkout tapi belum menyelesaikan pembayaran. Masalahnya, rangkaian ini sering ditulis sebagai tiga versi dari kalimat yang sama.
Ada tiga hal yang terjadi di kepala pembaca:
- Pembaca belajar pola. Kalau email pertama dan kedua isinya “ayo selesaikan pembayaran”, pembaca menyimpulkan email ketiga juga begitu. Baris subjek sudah cukup, isinya tidak perlu dibuka.
- Tekanan menumpuk. Setiap pengingat terasa seperti tagihan kecil. Orang yang merasa ditagih biasanya memilih menghindar, dan cara menghindar paling gampang adalah mengabaikan email.
- Pilihan keluar makin menarik. Di titik jenuh, tombol unsubscribe atau tombol laporan spam terasa lebih melegakan daripada membaca.
Poin terakhir ini serius. Google menjelaskan di pedoman pengirim email Gmail bahwa laporan spam dari penerima bisa menurunkan reputasi domain. Pesan berikutnya dari domain itu jadi lebih mungkin masuk folder spam.
Jadi turunnya minat membaca email susulan itu wajar. Penyebabnya ada di pengalaman membaca email sebelumnya. Kalau mau tahu kenapa orang menunda beli sejak awal, saya sudah bahas alasan orang tidak beli di kunjungan pertama dan cara menyusulnya. Artikel ini fokus ke satu alat kecil di dalam email susulan: humor.
Apa yang sebenarnya dilakukan humor ringan di dalam email?
Humor niche-relevan adalah lelucon ringan yang diambil dari situasi sehari-hari pembeli di bidang yang sama dengan produkmu. Ciri-cirinya:
Baca jugaAI untuk Digital MarketingFollow Up Calon Pembeli yang Nggak Bikin Risih
- Pendek, cukup satu sampai dua kalimat.
- Relevan, situasinya dialami calon pembeli saat berurusan dengan masalah yang diselesaikan produkmu.
- Menertawakan situasi, dan tidak menertawakan orangnya.
- Punya jembatan, kalimat berikutnya menyambung ke inti email.
- Konsisten dengan suara brand, terdengar seperti orang yang sama yang menulis email lainnya.
Nah, mekanismenya ada empat.
Senyum kecil menjadi alasan untuk membuka email berikutnya
Email yang memberi sesuatu, entah informasi atau senyum, meninggalkan kesan “email ini layak dibaca”. Kesan itu terbawa ke email berikutnya. Pembaca membuka karena berharap dapat sesuatu lagi, dan berhenti merasa diwajibkan.
Lelucon yang pas adalah bukti bahwa kamu paham
Lelucon tentang adonan bantat hanya lucu bagi orang yang pernah bikin kue. Waktu pembaca tertawa, mereka sedang mengakui, “iya, ini saya banget.” Pengakuan kecil ini membangun rasa percaya, dan rasa percaya itu yang dibutuhkan orang yang masih ragu membeli.
Tekanan turun, pikiran jadi lebih jernih
Orang yang merasa dikejar sibuk mencari jalan keluar. Orang yang santai punya ruang untuk mempertimbangkan. Humor menurunkan suhu email, sehingga keberatan yang sebenarnya bisa dibahas dengan tenang.
Email terasa ditulis manusia
Rangkaian email otomatis gampang terasa seperti mesin. Satu kalimat jenaka yang spesifik membuat pembaca ingat ada orang di balik bisnis ini.
Kenapa jokes receh generik sering gagal?
Lelucon umum yang diambil dari internet tidak tersambung ke produkmu. Pembaca harus pindah konteks dua kali: dari lelucon ke produk, lalu kembali ke keputusan. Hasilnya terasa seperti pengisi halaman. Lelucon niche-relevan bekerja lebih baik karena tetap berada di dunia yang sama dengan masalah pembaca.
Bagaimana cara menyelipkan humor di email follow-up tanpa terasa maksa?
Pakai pola empat bagian yang saya sebut Senyum, Jembatan, Poin, Langkah:
- Senyum: satu situasi lucu dari keseharian pembeli, maksimal dua kalimat.
- Jembatan: satu kalimat yang menghubungkan situasi itu ke alasan email ini ditulis.
- Poin: satu keberatan yang paling sering menahan orang beli, dijawab dengan jelas.
- Langkah: satu tindakan berikutnya, misalnya kembali ke halaman checkout atau membalas email.
Taruh humor di kalimat pembuka atau di P.S. Dua posisi ini paling sering dibaca. Untuk baris subjek, hati-hati. Subjek tetap harus memberi tahu isi email, jadi humor di subjek hanya boleh kalau maknanya masih jelas.
Contoh pola di beberapa niche (ilustrasi)
Semua contoh di bawah adalah ilustrasi, untuk menunjukkan bentuknya.
Kelas Meta Ads untuk UMKM: “Ada dua jenis orang yang membuka Ads Manager pertama kali: yang langsung paham semua menu, dan yang jujur. Kalau kamu termasuk yang kedua, tenang, kelasnya memang disusun dari menu paling dasar. Pendaftaranmu masih tersimpan di sini.”
Template desain feed Instagram: “Desain yang dikerjakan jam sebelas malam selalu terlihat bagus jam sebelas malam. Paginya beda cerita. Template ini dibuat supaya kamu tidak perlu mendesain dari nol tiap malam. Pesananmu masih menunggu di sini.”
Toko bahan kue: Contoh adonan di awal artikel. Setelah lelucon, jembatannya bisa membahas keraguan soal kesegaran bahan, lalu menjelaskan cara pengemasannya.
Perhatikan polanya. Leluconnya menertawakan situasi yang dialami semua orang di niche itu, termasuk penjualnya. Tidak ada yang menyindir pembaca karena belum bayar.
Contoh susunan tiga email recovery
- Email pertama: tanpa humor. Isinya pengingat singkat dan tautan kembali ke checkout. Sebagian orang berhenti karena kendala teknis, misalnya metode bayar gagal. Mereka butuh bantuan cepat, belum butuh lelucon.
- Email kedua: Senyum, Jembatan, Poin, Langkah. Pilih satu keberatan paling umum. Kalau kamu belum tahu keberatannya, coba tanya alasan belum beli lewat daftar pilihan supaya jawabannya mudah dikumpulkan.
- Email ketiga: humor ringan dan penutup yang memberi ruang. Sampaikan bahwa tidak apa-apa kalau belum cocok sekarang. Beri pilihan untuk berhenti menerima email soal pesanan ini.
Pakai AI untuk mencari bahan, kamu yang memilih
ChatGPT atau Claude bisa membantu mengumpulkan bahan mentah. Contoh prompt:
Saya menjual [produk] untuk [tipe pembeli] di Indonesia.
Tuliskan 15 situasi kecil yang lucu atau menjengkelkan
yang sering dialami [tipe pembeli] saat [aktivitas terkait produk].
Syarat: tidak menyinggung SARA, fisik, atau kondisi keuangan,
dan tidak merendahkan pembeli. Satu kalimat per situasi.
Hasil AI biasanya masih generik. Saring dengan bahan asli: kalimat yang sering muncul di chat pelanggan, komentar, atau pertanyaan saat jualan. Situasi yang benar-benar dialami pembeli hampir selalu lebih lucu daripada karangan.
Kenapa ini penting buat bisnis kecil dengan tim tipis?
Buat solopreneur atau bisnis dengan tim dua sampai tiga orang, beberapa hal ini terasa langsung:
- List kecil itu mahal. Setiap orang yang unsubscribe karena jenuh adalah calon pembeli yang hilang dari jangkauan.
- Email recovery ditulis sekali, dibaca berkali-kali. Waktu satu sore untuk merapikan rangkaian ini terpakai untuk semua calon pembeli berikutnya.
- Humor tidak memotong margin. Banyak bisnis langsung memberi diskon di setiap email susulan. Cara itu berisiko melatih pembeli untuk menunggu diskon sebelum checkout.
- Satu suara yang konsisten. Kalau email terasa ditulis orang yang sama, hubungan dengan list ikut terbangun walaupun pesanan pertama belum terjadi.
Kalau list kamu campuran pembeli lama dan orang yang belum pernah beli, pertimbangkan memisahkan list berdasarkan riwayat beli. Nada humor untuk pelanggan setia bisa lebih akrab dibanding untuk orang yang baru kenal.
Jebakannya: kapan humor justru merusak?
Humor membantu dalam batas tertentu. Hindari di situasi berikut:
- Saat masalahnya teknis. Kalau pembayaran gagal atau tautan rusak, pembaca butuh solusi. Lelucon di sini terasa meremehkan masalah mereka.
- Saat niche-nya sensitif. Produk terkait kesehatan, duka, utang, atau anak berkebutuhan khusus menuntut nada yang lebih hati-hati.
- Saat leluconnya menyindir keraguan pembaca. Kalimat seperti “masih mikir terus, keburu lebaran kuda” terasa merendahkan. Orang yang ragu punya alasan.
- Saat leluconnya soal uang atau harga. Bercanda tentang dompet menipis justru mengingatkan pembaca pada rasa berat membayar.
- Saat humor dipakai menutupi penawaran yang lemah. Kalau produk, harga, atau halaman checkout bermasalah, lelucon tidak menyelesaikan apa pun.
- Saat setiap paragraf dipaksa lucu. Satu lelucon per email sudah cukup. Lebih dari itu, inti email tenggelam.
Ada satu jebakan pengukuran juga. Open rate sekarang perlu dibaca dengan hati-hati. Apple menjelaskan bahwa Mail Privacy Protection mencegah pengirim melihat apakah email sudah dibuka. Artinya, angka open rate bisa naik atau turun tanpa ada perubahan perilaku pembaca yang sebenarnya.
Karena itu, sinyal yang lebih bisa dipegang adalah klik ke halaman checkout, balasan email, jumlah unsubscribe, dan laporan spam. Google juga menyarankan untuk memudahkan penerima berhenti berlangganan, karena opsi keluar yang jelas membantu kesehatan pengiriman.
Langkah yang bisa kamu lakukan minggu ini
- Kumpulkan sepuluh “momen receh” dari dunia pembeli. Ambil dari chat, komentar, atau pertanyaan pelanggan. Tambahkan bahan dari prompt AI di atas, lalu pilih yang paling terasa nyata.
- Buka rangkaian email recovery yang sekarang berjalan. Tandai email mana yang isinya cuma mengulang pengingat.
- Tulis ulang email kedua dan ketiga dengan pola Senyum, Jembatan, Poin, Langkah. Biarkan email pertama tetap sederhana dan cepat.
- Bacakan keras-keras. Kalau ada kalimat yang membuatmu meringis karena canggung, ganti. Lebih bagus lagi, minta satu orang dari niche yang sama membacanya.
- Catat angka pembanding sebelum dan sesudah perubahan. Lihat klik ke checkout, balasan, unsubscribe dan laporan spam. Kalau list masih kecil, baca isi balasan satu per satu, itu sudah data yang berharga.
Calon pembeli yang belum beli hari ini masih bisa membeli nanti, selama mereka tetap mau membaca emailmu. Email yang dibuka lagi biasanya email yang sebelumnya terasa layak dibaca. Satu senyum yang tepat sasaran bisa jadi alasan kecil itu.
Kalau kamu suka bahasan praktis seperti ini, saya rutin berbagi catatan soal email, konten dan AI untuk bisnis lewat newsletter.
Kalau kamu mau melatih AI menulis dengan suaramu sendiri, lihat Claude Mastery.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah boleh pakai humor di email pengingat pembayaran yang belum selesai?
Boleh, selama penyebab pembeli berhenti bukan masalah teknis. Email pengingat pertama sebaiknya tetap sederhana, berisi tautan kembali ke checkout dan bantuan bila metode bayar gagal. Humor ringan lebih cocok di email susulan, saat pembaca kemungkinan masih ragu. Pilih lelucon tentang situasi sehari-hari di niche pembeli, dan hindari bercanda soal uang, harga, atau keraguan mereka.
Di bagian mana sebaiknya lelucon ditaruh dalam email marketing?
Posisi paling aman adalah kalimat pembuka atau P.S., karena dua bagian ini paling sering dibaca. Kalimat pembuka memberi senyum sebelum masuk ke inti pesan. P.S. memberi penutup yang hangat. Baris subjek boleh memakai humor hanya bila maknanya tetap jelas, karena pembaca memakai subjek untuk menilai isi email sebelum membukanya.
Bagaimana cara tahu humor di email berhasil atau tidak?
Bandingkan sinyal perilaku sebelum dan sesudah email diubah: klik ke halaman checkout, balasan dari pembaca, jumlah unsubscribe, dan laporan spam. Open rate sebaiknya hanya dipakai sebagai petunjuk kasar, karena fitur privasi di sebagian aplikasi email membuat pengirim tidak bisa melihat apakah email benar-benar dibuka. Untuk list kecil, isi balasan pembaca sering lebih informatif daripada persentase.
Apakah ChatGPT atau Claude bisa dipakai untuk menulis jokes email jualan?
Bisa, terutama untuk mengumpulkan bahan mentah berupa situasi lucu yang dialami calon pembeli di niche tertentu. Berikan konteks produk, tipe pembeli, dan batasan seperti larangan SARA atau merendahkan pembeli. Hasilnya biasanya masih umum, jadi saring dengan bahan asli dari chat dan komentar pelanggan. Keputusan akhir tetap di tanganmu, karena kamu yang paling paham nada brand dan pembacanya.


