Konten & CopywritingAI untuk Digital Marketing

Kenapa CTA yang Sama Persis di Tiap Newsletter (Walau Topiknya Beda-Beda) Akhirnya Diklik

Kenapa CTA yang Sama Persis di Tiap Newsletter (Walau Topiknya Beda-Beda) Akhirnya Diklik

CTA newsletter sebaiknya sama persis di tiap edisi, karena pembaca jarang mengklik saat pertama kali melihat tawaran. Klik biasanya datang di edisi ke sekian, saat pembaca kebetulan sedang butuh dan jalannya sudah terasa akrab.

Intinya:

  • CTA yang sama di footer tiap edisi menumpuk rasa kenal, sehingga pembaca tidak perlu memproses tawaran baru setiap kali membuka email.
  • Topik di bagian atas bertugas membuat orang membuka email, sementara CTA di bawah bertugas hadir tepat saat pembaca siap.
  • Mengganti CTA supaya tidak monoton sering cuma memuaskan penulis yang bosan, padahal pembaca belum sempat mengenalinya.

Dua newsletter, dua cara pasang CTA

Coba kamu bayangin dua pemilik usaha katering sehat yang sama-sama kirim newsletter tiap minggu. Misalnya jumlah pembaca keduanya mirip dan topiknya sama menariknya.

Pemilik pertama takut dianggap monoton. Edisi pertama ditutup ajakan ikut kelas masak. Edisi kedua ajakan follow Instagram. Edisi ketiga promo paket langganan. Edisi keempat ajakan isi survei.

Pemilik kedua melakukan hal yang terasa membosankan. Tiap edisi, apa pun topiknya, ditutup kalimat yang sama: “Kalau kamu mau makan siang sehat diantar tiap hari kerja, balas email ini dengan kata PAKET.”

Nah, sekarang bayangin satu pembaca, sebut saja Dina. Beberapa minggu pertama dia sibuk dan belum butuh katering. Lalu kantornya pindah, dan warung langganannya jadi jauh. Hari itu dia membuka email dari dua katering tadi.

Di newsletter pertama, ajakan hari itu adalah isi survei. Dina harus mengingat-ingat, dulu pernah ada promo paket, tautannya di mana ya. Di newsletter kedua, Dina sudah hafal caranya. Dia langsung membalas dengan kata PAKET.

Hasilnya ditentukan oleh kapan Dina siap, dan apakah jalannya sudah tersedia di hari itu.

CTA footer berulang adalah satu ajakan yang ditulis sama persis dan ditaruh di posisi yang sama pada setiap edisi newsletter, apa pun topik di atasnya. Atributnya bisa kamu cek satu per satu:

Baca jugaAI untuk Digital MarketingKenapa Ganti-Ganti Nama Pengirim buat Satu Orang yang Sama di Email Marketing Berisiko

  • Kalimatnya identik, tidak diparafrase tiap minggu.
  • Posisinya tetap, selalu di bagian bawah setelah isi.
  • Tujuannya tunggal, satu tawaran dan satu aksi.
  • Tautannya sama, atau kata balasannya sama.
  • Muncul terus, termasuk di edisi yang topiknya jauh dari tawaran.

Call to action atau CTA sendiri adalah bagian konten yang meminta pembaca melakukan satu tindakan spesifik, misalnya membalas, mendaftar, atau membeli.

CTA newsletter sebaiknya sama atau diganti? Ini mekanismenya

Ada beberapa sebab-akibat yang bekerja bersamaan. Kalau kamu paham mekanismenya, kamu berhenti merasa bersalah soal “monoton”.

Kesiapan beli datang di hari yang tidak bisa kamu tebak

Momen siap beli adalah titik ketika kebutuhan, budget, dan waktu pembaca kebetulan bertemu. Kamu tidak bisa mengatur kapan itu terjadi. Yang bisa kamu atur adalah memastikan tawaranmu sudah ada di depan mata saat hari itu datang.

Kalau CTA ganti-ganti, peluangnya jadi untung-untungan. Bisa saja pembaca siap di minggu ketika CTA-nya sedang membahas hal lain.

Rasa kenal menurunkan beban mental

Dalam psikologi ada konsep mere exposure effect, yaitu kecenderungan orang merasa lebih nyaman pada hal yang sudah sering ia lihat. Di newsletter, efek ini bekerja pelan. Tiap edisi menambah sedikit rasa kenal pada tawaranmu.

Tawaran baru selalu memancing pertanyaan di kepala: ini apa, buat siapa, aman tidak. Tawaran yang sudah dilihat berkali-kali melewati pertanyaan itu. Klik jadi terasa ringan.

Topik atas dan CTA bawah punya tugas yang berbeda

Topik di atas adalah alasan orang membuka email. Topik itu memang harus berganti supaya tetap segar. CTA di bawah adalah jangkar, titik tetap yang selalu ada di tempat yang sama.

Pembaca yang hari ini tertarik soal manajemen waktu, dan besok soal harga, tetap bertemu jangkar yang sama. Tiap tipe pembaca masuk lewat pintu yang berbeda. Kalau kamu belum yakin pintu apa saja yang dipakai audiensmu, pola tipe pengikut yang butuh konten berbeda bisa membantu memetakannya.

Konsistensi terbaca sebagai tawaran yang serius

Tawaran yang muncul terus memberi kesan stabil. Pembaca menangkap bahwa ini memang yang kamu jual, dan minggu depan masih ada. Tawaran yang muncul sekali lalu hilang terasa seperti percobaan.

Kamu bosan jauh lebih cepat daripada pembacamu

Ini jebakan yang paling sering terjadi. Kamu melihat CTA itu setiap kali menulis dan mengedit. Pembaca melihatnya sekilas, dan tidak semua edisi mereka buka. Saat kamu sudah muak, sebagian pembaca mungkin baru mulai menyadarinya.

Logikanya mirip dengan postingan lama yang diunggah ulang persis sama. Yang terasa usang bagimu sering masih terasa baru bagi orang lain.

Kenapa ini penting buat bisnis kecil dengan tim tipis?

Buat solopreneur, menulis CTA baru tiap edisi itu makan waktu. Kamu harus memikirkan tawaran, menulis kalimat, membuat tautan, lalu mengecek semuanya berjalan. Kalau dilakukan tiap edisi, bebannya lumayan.

CTA footer berulang memangkas pekerjaan itu. Energimu pindah ke bagian yang memang perlu segar, yaitu isi di atas.

Ada juga manfaatnya saat kamu memakai AI untuk bantu menulis. Kalau kamu minta AI menulis satu edisi utuh, redaksi CTA ikut berubah tiap kali. Ini sejalan dengan alasan hasil AI bisa berubah-ubah walau prompt-nya mirip. Solusinya sederhana. Biarkan AI membantu isi atas, lalu tempel CTA sebagai teks tetap di template yang tidak boleh diubah.

Jebakannya: kapan pola ini TIDAK berlaku

Repetisi memperbesar apa yang sudah ada. Jadi ada beberapa kondisi ketika pola ini tidak menolong:

  • Tawarannya lemah atau tidak relevan. Tawaran yang tidak dibutuhkan pembaca tetap tidak diklik, sesering apa pun diulang.
  • Topik atas melenceng jauh dari tawaran. Kalau isi newsletter menarik orang yang tidak akan pernah butuh tawaranmu, rasa kenal tidak berubah jadi klik.
  • Frekuensi kirim terlalu jarang. Rasa kenal butuh paparan yang rutin. Kalau jaraknya terlalu jauh, pembaca keburu lupa.
  • CTA tampil seperti iklan tempelan. Banner blindness adalah kebiasaan mata melompati area yang terlihat seperti iklan. Tulis CTA sebagai kalimat biasa darimu, dengan nada yang sama seperti isi newsletter.
  • Kamu sedang punya promo berbatas waktu. Tambahkan promo itu sebagai slot terpisah, lalu biarkan CTA jangkar tetap di tempatnya.

Kalau setelah cukup lama klik tetap datar, periksa dulu tawaran dan kecocokan audiensnya. Mengganti redaksi CTA sebaiknya jadi langkah terakhir.

Yang bisa kamu lakukan minggu ini

  1. Pilih satu tawaran utama. Ambil tawaran yang paling ingin kamu sampaikan ke semua pembaca, apa pun topiknya.
  2. Tulis satu kalimat CTA. Isinya siapa yang cocok, apa yang mereka dapat, dan satu aksi yang jelas.
  3. Kunci posisinya. Taruh di tempat yang sama, dengan format yang sama, di setiap edisi.
  4. Tentukan masa uji. Misalnya kamu sepakat tidak mengubahnya selama dua belas edisi berikutnya, supaya rasa kenal sempat menumpuk.
  5. Simpan di template. Kalau pakai AI, masukkan CTA sebagai teks tetap yang tidak ikut diolah.
  6. Tanya pembeli baru. Tanyakan sudah berapa lama mereka membaca newsletter-mu sebelum mengambil tawaran. Jawaban ini sering lebih jujur daripada data klik per edisi.

Pada akhirnya, isi newsletter-mu adalah alasan orang datang, dan CTA-mu adalah pintu yang selalu ada di tempat yang sama. Biarkan pintunya tetap di situ sampai pembaca siap melangkah.

Kalau kamu ingin dapat insight seperti ini secara rutin, kamu bisa berlangganan newsletter Hendra Kuang.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah CTA newsletter harus sama di setiap edisi?

Untuk tawaran utama, CTA yang sama di setiap edisi biasanya lebih efektif. Kalimat, posisi, dan tautan yang konsisten menumpuk rasa kenal pada pembaca. Saat pembaca akhirnya siap membeli, mereka sudah tahu jalannya dan tidak perlu mencari. Topik di bagian atas tetap boleh berganti supaya newsletter terasa segar, sementara CTA di bawah berfungsi sebagai titik tetap yang selalu ada.

Apakah pembaca akan bosan melihat CTA yang sama terus-menerus?

Penulis biasanya bosan jauh lebih cepat daripada pembaca. Penulis melihat CTA setiap kali menulis dan mengedit, sedangkan pembaca hanya melihatnya sekilas dan tidak membuka semua edisi. Rasa bosan lebih mungkin muncul kalau CTA terlihat seperti blok iklan yang ditempel. Tulis ajakan sebagai kalimat biasa dengan nada yang sama seperti isi newsletter, sehingga terasa sebagai bagian dari percakapan.

Kapan sebaiknya CTA newsletter diganti?

CTA layak diganti kalau tawarannya sudah tidak relevan untuk pembaca, produknya berubah, atau klik tetap datar setelah masa uji yang cukup panjang. Sebelum mengganti redaksi, periksa dulu apakah audiens memang membutuhkan tawarannya dan apakah isi newsletter menarik orang yang tepat. Untuk promo berbatas waktu, tambahkan slot terpisah dan biarkan CTA utama tetap di tempatnya.

Bagaimana cara menulis CTA footer newsletter yang efektif?

CTA footer yang efektif memuat siapa yang cocok, apa yang mereka dapat, dan satu aksi yang jelas dalam satu kalimat. Contohnya ajakan membalas email dengan satu kata tertentu. Taruh di posisi yang sama setiap edisi dan tulis dengan gaya bicaramu sendiri. Kalau memakai AI untuk menulis newsletter, simpan CTA sebagai teks tetap di template agar redaksinya tidak ikut berubah.

Artikel terkait

Butuh bantuan terapkan ini ke bisnismu?

Konsultasi digital marketing & AI langsung dengan Hendra Kuang, strategi berbasis data untuk market Indonesia.

Mulai konsultasi