Kenapa Menulis Konten Edukasi untuk Orang Awam Bikin Insight Ahli Lebih Tajam

Kalau kamu menulis konten edukasi untuk orang awam, isinya jadi lebih tajam karena kamu terpaksa menuliskan langkah, alasan dan cara cek yang biasanya kamu lompati karena terasa terlalu jelas. Bagian yang terlewat itu sering kali justru insight yang paling berguna buat pembaca.
Bagian dari playbook: Playbook Konten dan Copywriting dengan AI
Intinya:
- Makin dalam keahlianmu, makin banyak langkah penting yang terasa otomatis sehingga tidak pernah tertulis.
- Pertanyaan polos dari orang awam memaksa alasan di balik setiap langkah muncul ke permukaan.
- Konten terasa tajam karena memuat alasan dan cara cek yang tadinya cuma ada di kepala ahli.
Coba kamu bayangin dua versi tips yang sama
Misalnya kamu jago foto produk untuk jualan online. Lalu kamu menulis tips singkat: “Pakai cahaya dari jendela, jangan pakai flash.”
Buat kamu, kalimat itu sudah lengkap. Sekarang bayangin pembacanya pemilik usaha keripik rumahan. Dia baru pertama kali memotret produknya sendiri pakai HP.
Dia mungkin akan bertanya seperti ini:
- Jendela yang mana? Kamar saya ada dua jendela.
- Jam berapa? Kalau siang bolong cahayanya kan terang banget.
- Produknya ditaruh di depan jendela atau di samping?
- Gimana saya tahu cahayanya sudah pas?
Nah, pertanyaan terakhir itu yang menarik. Kamu bisa langsung menjawabnya tanpa perlu mikir. Misalnya kamu selalu melirik bayangan di sisi produk. Kalau bayangannya keras dan tepinya tajam, kamu geser posisi produk atau menunggu cahaya yang lebih lembut.
Kebiasaan melirik bayangan itu tidak pernah kamu tulis. Padahal cara cek seperti itu yang bikin pembaca bisa mandiri. Versi kedua, yang menjawab pertanyaan polos tadi, jauh lebih berguna. Isinya tetap keahlianmu sendiri. Bedanya, sekarang keahlian itu kelihatan.
Kenapa ahli sering melewatkan insight yang paling penting?
Kutukan pengetahuan bikin kamu lupa rasanya belum tahu
Kutukan pengetahuan (curse of knowledge) adalah bias saat orang yang sudah tahu sesuatu kesulitan membayangkan sudut pandang orang yang belum tahu. Camerer, Loewenstein dan Weber memberi nama pada pola ini dalam makalah tahun 1989 di Journal of Political Economy. Temuan intinya: pihak yang lebih tahu sulit mengabaikan informasi yang dimilikinya, bahkan ketika itu merugikan dirinya sendiri.
Makalah itu meneliti keputusan dalam situasi ekonomi, belum soal menulis. Tapi pola yang sama gampang ditemukan saat kamu membuat konten edukasi. Kamu membaca ulang draft dengan kepala yang sudah penuh pengetahuan. Celah dalam tulisan otomatis tertutup oleh pemahamanmu sendiri. Akhirnya draft terasa jelas, tapi cuma buat kamu.
Pengetahuan tacit tidak muncul kalau tidak dipancing
Pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang kamu pakai saat bekerja, tapi sulit kamu ungkapkan sebelum ada yang bertanya. Kebiasaan melirik bayangan tadi contohnya.
Makin sering kamu mengerjakan sesuatu, makin banyak langkah yang tadinya perlu dipikir jadi dikerjakan begitu saja. Ini bagus untuk kecepatan kerja. Efek sampingnya, langkah itu tidak teringat lagi saat kamu menulis.
Filter “ah, ini terlalu jelas” membuang bahan terbaikmu
Saat menulis, ahli punya filter diam-diam. Hal yang terasa basic dianggap tidak perlu ditulis. Masalahnya, ukuran “basic” itu diambil dari isi kepalamu sendiri. Bagi pembaca, hal yang sama bisa jadi momen “oh, ternyata begitu”.
Apa itu menulis dari sudut orang awam, dan apa cirinya?
Menulis dari sudut orang awam adalah teknik merevisi konten dengan membaca ulang draft sebagai orang cerdas yang belum tahu apa-apa soal topiknya. Cirinya:
- Ada satu pembaca yang spesifik. Kamu membayangkan orang tertentu, misalnya pemilik usaha keripik tadi, lengkap dengan alat dan situasinya.
- Setiap istilah diberi arti. Jargon tetap boleh dipakai, asal dijelaskan saat pertama kali muncul.
- Setiap perintah punya alasan. Setelah “lakukan X”, selalu ada “karena Y”.
- Setiap langkah punya cara cek. Pembaca tahu kapan langkahnya sudah benar.
- Batasnya disebutkan. Pembaca tahu kapan tips ini tidak cocok untuk situasinya.
Perhatikan, teknik ini menambah isi. Kedalamannya tetap, hanya saja langkah yang tadinya tersembunyi sekarang terbuka.
Kenapa pertanyaan polos bisa memancing insight keluar?
Insight jarang ada di bagian “apa”. Biasanya ia ada di “kenapa” dan “gimana tahunya”. Pertanyaan orang awam hampir selalu mengarah ke dua hal itu.
Mekanismenya kira-kira begini:
- Orang awam bertanya, “Kenapa harus begitu?”
- Kamu terpaksa menjelaskan sebab-akibat yang selama ini kamu jalankan berdasarkan insting.
- Waktu menuliskan sebab-akibat itu, kamu sering menemukan prinsip umum di baliknya.
- Prinsip umum itu bisa pembaca pakai di situasi lain, dan dari situlah konten terasa tajam.
Ada manfaat sampingannya juga. Kalau kamu tidak bisa menjawab “kenapa” dengan jelas, itu sinyal. Mungkin kamu memang belum benar-benar paham bagian itu. Atau selama ini kamu cuma mengikuti kebiasaan.
Jargon itu kompresi, dan kompresi menyembunyikan isi
Istilah teknis mirip file zip. Bagi sesama ahli, satu kata sudah mengandung banyak makna. Bagi orang awam, file itu tidak bisa dibuka. Saat kamu “mengekstrak” istilah itu untuk pembaca awam, kamu juga ikut memeriksa ulang isinya.
Kenapa ini penting buat pebisnis dan kreator produk digital?
Kalau kamu solopreneur yang membuat konten edukasi dari keahlian sendiri, kemungkinan besar kamu menulis tanpa editor. Waktunya pun sering cuma sisa setelah urusan operasional. Dalam kondisi seperti ini, kutukan pengetahuan makin sulit terdeteksi karena tidak ada orang kedua yang membaca draft.
Ada tiga implikasi praktis:
- Konten adalah etalase keahlianmu. Kalau langkah penting tidak ditulis, calon pembeli tidak bisa melihat apa yang membuatmu berbeda. Insight tersembunyi inilah yang sering membedakan kamu dari kreator lain, sejalan dengan pembahasan kenapa tampil beda lebih menang daripada sekadar lebih baik.
- Pertanyaan yang berulang di DM adalah data gratis. Misalnya pembeli ebook-mu sering menanyakan hal yang sama lewat WhatsApp. Itu tanda ada langkah yang kamu lompati di materi.
- Pertanyaan polos sering mirip dengan kata kunci yang diketik orang. Orang awam mencari pakai bahasa mereka sendiri dan jarang pakai jargon. Pola ini cocok dengan strategi konten mingguan berbasis pencarian.
Jebakannya: kapan menulis untuk orang awam tidak cocok?
Teknik ini juga punya batas. Perhatikan situasi berikut:
- Pembacamu memang sesama praktisi. Penjelasan dasar akan terasa menggurui dan membuang waktu mereka. Tulis sesuai level mereka, lalu sediakan tautan penjelasan dasar untuk yang membutuhkan.
- Kamu salah memilih “orang awam”. Pembeli produk digital sering kali adalah pemula yang sudah mencoba dan mentok. Kebutuhan mereka berbeda dengan orang yang sama sekali belum pernah mendengar topiknya. Kalau semuanya dijelaskan dari nol, mereka bisa merasa diremehkan.
- Semua hal dijelaskan tanpa dipilah. Kalau setiap langkah diuraikan, konten bisa membengkak. Pilih langkah yang paling sering bikin orang gagal, dan ringkas sisanya.
- Penyederhanaan sampai salah. Analogi memang membantu. Tapi analogi yang terlalu longgar bisa menanamkan pemahaman yang keliru. Setelah memakai analogi, sebutkan di bagian mana analogi itu tidak berlaku lagi.
- Orang awam yang cuma ada di kepala. Kamu tetap membayangkan orang awam pakai kepalamu sendiri, jadi titik buta masih mungkin ada. Sesekali, uji tulisanmu ke manusia sungguhan.
Bisakah AI jadi pembaca awam untuk draft kamu?
Bisa, asal batasnya jelas. Kamu bisa meminta ChatGPT atau Claude berperan sebagai pembaca awam yang menandai bagian membingungkan. Cara ini membantu kalau hari itu tidak ada orang yang bisa membaca draft-mu.
Contoh instruksi yang bisa kamu pakai:
Berperanlah sebagai pemilik usaha kecil yang cerdas tapi belum pernah belajar [topik]. Baca draft di bawah. Tandai setiap istilah yang tidak kamu pahami. Tandai setiap perintah yang tidak ada alasannya. Untuk setiap langkah, tanyakan “gimana saya tahu ini sudah benar?”. Jangan perbaiki tulisannya, cukup ajukan pertanyaan.
Instruksi “jangan perbaiki” itu penting. Tujuannya supaya AI cuma memancing pertanyaan, dan jawabannya tetap berasal dari keahlianmu.
Ingat, AI hanya menyimulasikan pembaca. Pertanyaannya bisa terlalu umum atau tidak sesuai dengan situasi pembacamu yang sebenarnya. Pakai AI sebagai saringan pertama, lalu tetap cek ke orang sungguhan.
Langkah yang bisa kamu coba minggu ini
- Pilih satu konten yang sudah jadi. Ambil caption, artikel atau satu bab materi produk yang paling sering memancing pertanyaan.
- Tulis profil satu pembaca awam. Cukup dua sampai tiga kalimat: siapa dia, alat apa yang dia punya, dan apa yang sudah dia coba.
- Baca ulang kalimat per kalimat dengan tiga tanda. Tandai istilah yang belum dijelaskan, perintah tanpa alasan, dan langkah tanpa cara cek.
- Jawab setiap tanda secara tertulis. Tulis jawaban untuk “kenapa” dan “gimana tahunya” dengan bahasa sehari-hari.
- Lingkari jawaban yang bikin kamu berhenti dan mikir. Itu kandidat insight, dan sering kali satu jawaban bisa jadi konten tersendiri.
- Minta satu orang di luar bidangmu menjelaskan ulang. Teach-back adalah cara mengecek pemahaman dengan meminta orang menjelaskan ulang pakai kata-katanya sendiri. Bagian yang salah mereka jelaskan adalah bagian yang perlu kamu perbaiki.
Kalau kamu sering berhenti di langkah pertama karena draft terasa belum layak, tulis versi kasarnya dulu. Soal ini sudah dibahas di tulisan tentang kenapa kamu sering mentok tiap mau bikin konten. Teknik orang awam ini paling pas dipakai saat merevisi, setelah draft pertama jadi.
Satu pertanyaan sebelum kamu menghapus kalimat berikutnya
Hal yang terasa terlalu jelas buatmu sering kali justru bagian yang paling dicari pembaca. Jadi sebelum menghapus kalimat karena merasa “ah, semua orang juga tahu”, tanya dulu: semua orang itu siapa?
Baca jugaKonten & CopywritingKenapa Buku Non-Marketing Bisa Bikin Insting Jualan Lebih Tajam
Kalau kamu ingin dapat insight seperti ini secara rutin lewat email, kamu bisa bergabung di newsletter Hendra Kuang.
Kalau kamu mau melatih AI menulis dengan suaramu sendiri, lihat Claude Mastery.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu curse of knowledge dalam menulis konten?
Curse of knowledge atau kutukan pengetahuan adalah bias saat orang yang sudah paham suatu topik sulit membayangkan rasanya belum paham. Dalam menulis konten, bias ini membuat ahli melompati istilah, alasan dan cara cek yang terasa jelas baginya. Penulis melihat draft-nya lengkap karena celahnya tertutup oleh pengetahuannya sendiri. Sementara itu, pembaca baru tersandung tepat di celah tersebut.
Bagaimana cara menjelaskan keahlian ke orang awam tanpa terkesan menggurui?
Mulailah dari situasi pembaca, lalu jelaskan alasan di balik setiap langkah dengan bahasa sehari-hari. Hindari nada "ini kan gampang" dan jangan menjelaskan ulang hal yang sudah mereka kuasai. Pilih tingkat pembaca dengan tepat, karena pemula yang sudah mencoba butuh penjelasan yang berbeda dengan orang yang baru mendengar topiknya. Sertakan cara cek supaya pembaca merasa mampu mencoba sendiri.
Apakah ChatGPT atau Claude bisa dipakai untuk mengecek tulisan dari sudut orang awam?
Bisa, sebagai saringan pertama. Minta AI berperan sebagai pembaca cerdas yang belum mengenal topikmu. Lalu minta ia menandai istilah yang membingungkan, perintah tanpa alasan, dan langkah tanpa cara cek. Minta AI hanya bertanya tanpa menulis ulang, supaya jawabannya tetap berasal dari keahlianmu. Hasilnya tetap simulasi, jadi uji juga ke orang sungguhan di luar bidangmu.
Apakah konten untuk orang awam jadi terlalu dangkal bagi pembaca yang sudah paham?
Konten bisa jadi dangkal kalau semua hal dijelaskan dari nol. Konten tetap dalam selama alasan dan prinsip di balik setiap langkah ikut ditulis, karena bagian itu juga berguna untuk pembaca berpengalaman. Untuk audiens campuran, tulis inti materi di level praktisi, lalu tambahkan penjelasan istilah singkat atau tautan pendukung. Untuk audiens yang semuanya ahli, pangkas penjelasan dasar.
Butuh bantuan terapkan ini ke bisnismu?
Konsultasi digital marketing & AI langsung dengan Hendra Kuang, strategi berbasis data untuk market Indonesia.
Mulai konsultasi


