Konten & CopywritingAI untuk Digital Marketing

Lateral Thinking: Cara Cari Ide Konten Produk Digital Saat Mentok

Lateral Thinking: Cara Cari Ide Konten Produk Digital Saat Mentok

Kalau ide konten produk digital kamu mentok, langkah pertama yang paling berguna adalah menulis satu pertanyaan absurd tentang produkmu sebelum membuka tools AI. Pertanyaan absurd memaksa otak keluar dari pola kategori. Setelah itu, AI baru dipakai untuk mengembangkan arah baru tersebut.

Intinya:

  • Ide mentok biasanya muncul karena kamu dan kompetitor berpikir di jalur asumsi yang sama tentang kategori produk.
  • Lateral thinking memakai provokasi yang sengaja tidak masuk akal untuk menggeser cara pandang, lalu mengambil prinsip yang berguna darinya.
  • AI paling membantu setelah kamu punya arah yang berbeda, karena prompt yang umum cenderung menghasilkan ide yang umum juga.

Coba kamu bayangin dua penjual template prompt AI untuk pemilik toko online, misalnya. Penjual pertama buka ChatGPT dan mengetik “kasih 20 ide konten untuk jual template prompt”. Hasilnya rapi: “hemat waktu”, “konten jadi lebih cepat”, “tidak perlu jago nulis”. Masalahnya, kompetitor yang mengetik prompt serupa dapat daftar yang mirip. Feed calon pembeli akhirnya penuh dengan janji yang sama.

Penjual kedua menahan diri sebentar. Dia menulis di kertas: “Gimana kalau produk ini justru dijual ke orang yang benci pakai AI?” Kedengarannya konyol. Tapi dari situ muncul angle baru: banyak pemilik toko kecil sebenarnya malas belajar AI, mereka cuma mau caption yang beres. Konten dia kemudian berbicara soal “pakai AI tanpa harus belajar AI”. Angle itu lahir dari pertanyaan yang aneh, lalu baru dirapikan dengan AI.

Kenapa ide konten kamu mentok padahal sudah pakai AI?

Mentok jarang terjadi karena kamu kehabisan kata. Lebih sering, kamu terjebak di satu pola cara melihat produk. Pola ini terbentuk dari kebiasaan kategori: semua penjual ebook bicara “praktis”, semua penjual template bicara “hemat waktu”.

Situs resmi lateral thinking menggambarkannya sebagai proses terstruktur untuk melawan kecenderungan alami pikiran mencari dan memakai pola yang sudah familiar. Jadi masalahnya ada di jalur berpikir, dan menambah jumlah ide di jalur yang sama tidak menggeser jalurnya.

AI generatif mempercepat ide, tapi bisa menyeragamkan hasil

Ada satu temuan riset yang relevan di sini. Studi Doshi dan Hauser di jurnal Science Advances tahun 2024 menguji penulis cerita pendek yang diberi ide dari model bahasa. Cerita mereka dinilai lebih kreatif dan lebih enak dibaca, terutama pada penulis yang kurang kreatif.

Namun cerita yang dibantu AI generatif juga lebih mirip satu sama lain dibanding cerita yang ditulis manusia saja. Penelitinya menyebut ini mirip dilema sosial. Secara individu penulis terbantu, tetapi secara kolektif ragam ide barunya menyempit.

Perlu dicatat, studi itu menguji cerita pendek dalam eksperimen online, belum menguji iklan atau konten jualan. Tapi mekanismenya masuk akal untuk dipakai sebagai peringatan. Kalau banyak penjual memakai alat serupa dengan prompt serupa, hasilnya cenderung berkumpul di titik tengah yang sama.

Nah, di situ masalahnya buat produk digital. Konten yang terdengar seperti semua orang lain sulit diingat sebagai milikmu.

Apa itu lateral thinking, dan apa bedanya dengan brainstorming biasa?

Lateral thinking adalah cara berpikir yang sengaja mengubah ide dan persepsi, supaya kamu bisa keluar dari pola yang sudah biasa. Istilah ini diberi nama dan dikembangkan tekniknya oleh Edward de Bono. Situs resminya menyebut lateral thinking sebagai pelengkap logika dan analisis.

Baca jugaKonten & CopywritingCara Gali Ide Konten dari Pengalaman Lama, Bukan Cari yang Baru, di Era Konten Bikinan AI

Atribut utamanya bisa kamu pegang seperti ini:

  • Disengaja. Kamu memancing pergeseran pola secara sadar, tanpa menunggu ilham datang.
  • Memakai langkah yang sengaja tidak logis. Logika menolak langkah aneh, sedangkan lateral thinking justru memakainya untuk memancing sudut pandang baru.
  • Menunda penilaian. Pertanyaannya bergeser dari “ini benar atau salah?” ke “ini membawa saya ke mana?”
  • Melengkapi logika. Setelah ide baru muncul, logika dan analisis tetap dipakai untuk menyaring.
  • Bisa dilatih. De Bono memperlakukan berpikir sebagai keterampilan yang bisa dipelajari.

Brainstorming biasa sering meminta “sebanyak mungkin ide”. Lateral thinking lebih spesifik: dia menyediakan alat untuk mengganggu pola yang sedang kamu pakai.

Po: kata kecil supaya ide aneh tidak langsung kamu bunuh

Po adalah penanda bahwa kalimat berikutnya adalah provokasi. Menurut situs resmi de Bono, Po singkatan dari Provocative Operation. Provokasi adalah pernyataan yang sengaja dibuat aneh untuk menggerakkan pikiran ke tempat baru, sebagaimana dijelaskan di entri Po di Wikipedia).

Fungsinya sederhana. Waktu kamu menulis “Po: pembeli tidak boleh membuka produk ini”, kamu memberi tahu diri sendiri untuk tidak menilai kalimat itu. Kamu cukup bertanya, prinsip apa yang bisa saya ambil dari sini?

Ini penting, saya ulang ya. Provokasi tidak untuk dijalankan apa adanya. Provokasi adalah batu loncatan menuju ide yang bisa dipakai.

Apa pelajaran Think Different Apple buat konten produk digital?

Kampanye “Think different” dipakai Apple dari 1997 sampai 2002. Kampanye ini dibuat oleh kantor Los Angeles agensi TBWA/Chiat/Day, menurut catatan Wikipedia tentang Think different.

Ada dua detail yang menarik untuk kita.

  1. Slogannya luas dibaca sebagai respons terhadap slogan IBM, “Think”. Apple mengambil kata yang sudah dimiliki kompetitor, lalu membelokkannya sedikit. Dari satu kata yang sama, lahir posisi yang berlawanan.
  2. Ada seri iklan cetak yang tidak menyebut produk sama sekali. Isinya potret satu tokoh bersejarah, logo Apple kecil, dan tulisan “Think different”. Iklan TV “Crazy Ones” juga menampilkan cuplikan hitam-putih tokoh-tokoh abad ke-20.

Saya tidak tahu proses persis di ruang rapat agensinya. Jadi bagian ini adalah pembacaan saya, berupa interpretasi. Kalau dibaca dengan kacamata lateral thinking, keputusan itu terlihat seperti jawaban atas provokasi: “Po: iklan komputer tanpa komputer.”

Untuk kategori yang biasanya sibuk membahas spesifikasi, provokasi itu absurd. Tapi prinsip yang bisa diambil sangat jelas. Brand bisa menjual identitas pembelinya, selain fitur produknya.

Buat produk digital, pelajarannya bisa diterjemahkan begini: cari asumsi yang dianggap wajib di kategorimu, lalu tanyakan apa yang terjadi kalau asumsi itu dihapus.

Cara pakai pertanyaan absurd buat cari angle produk digital

Ini urutan yang saling bergantung, jadi jalankan berurutan. Kamu cukup butuh kertas, produkmu, dan 3-5 konten kompetitor sebagai pembanding.

Langkah 1: Tulis asumsi standar kategorimu

Tulis hal-hal yang “pasti” ada di konten kategori produkmu. Misalnya untuk ebook resep katering rumahan:

  • Ebook dijual dengan janji praktis.
  • Pembeli ingin resep sebanyak mungkin.
  • Konten menampilkan foto makanan yang cantik.

Hasil antaranya adalah daftar asumsi. Kalau kamu kesulitan, lihat konten kompetitor dan catat janji yang muncul berulang.

Langkah 2: Ubah satu asumsi menjadi provokasi Po

Pilih satu asumsi, lalu buat versi absurdnya. Beberapa cara yang bisa kamu pakai:

  • Balik: “Po: pembeli ingin resep sesedikit mungkin.”
  • Hapus: “Po: konten tanpa foto makanan.”
  • Lebih-lebihkan: “Po: ebook ini hanya berisi satu resep.”
  • Ganti pembeli: “Po: ebook ini dibeli oleh orang yang tidak bisa masak.”

Jangan dinilai dulu. Tulis saja, minimal beberapa provokasi untuk satu asumsi.

Langkah 3: Cari gerakan, ambil prinsipnya

Untuk setiap provokasi, tanya: “Kalau ini benar, apa yang berubah? Prinsip apa yang tersembunyi di sini?”

Contoh ilustrasi dari “Po: pembeli ingin resep sesedikit mungkin”:

  • Prinsip yang muncul: ibu yang mulai katering kecil mungkin kewalahan oleh terlalu banyak pilihan menu.
  • Angle baru: “Mulai katering dengan menu yang sedikit, supaya belanja dan masaknya terkendali.”

Angle ini lebih spesifik daripada “resep praktis”, dan menyentuh rasa kewalahan yang nyata. Tentu, angle ini tetap hipotesis sampai kamu cek ke calon pembeli.

Langkah 4: Baru buka AI untuk mengembangkan

Setelah punya angle, AI jauh lebih berguna. Kamu memberi arah yang berbeda dari prompt umum, jadi hasilnya ikut bergeser.

Contoh prompt: “Saya menjual ebook menu katering rumahan dengan angle ‘mulai dengan menu sedikit’. Buat 10 hook konten pendek untuk ibu yang baru mau mulai katering dan merasa kewalahan.”

Kalau kamu ingin alur yang lebih panjang, kamu bisa memakai cara merantai beberapa AI dengan peran berbeda. Letakkan provokasi Po di depan rantainya sebagai input pertama.

Langkah 5: Cek hasilnya sebelum dipublikasikan

Hasil akhir dianggap siap kalau lolos tiga pertanyaan:

  • Kalau logo dan namamu dihapus, apakah konten ini masih terdengar seperti semua kompetitor?
  • Apakah angle ini benar untuk produkmu, tanpa melebih-lebihkan isinya?
  • Apakah calon pembeli paham dalam sekali baca?

Kalau jawaban pertama “iya”, kembali ke langkah 2 dengan asumsi lain.

Kenapa ini penting buat solopreneur dengan tim tipis?

Pebisnis kecil di Indonesia biasanya tidak punya tim kreatif. Seringnya satu orang memegang produk, konten, dan admin sekaligus. Dalam kondisi itu, AI terasa seperti penyelamat, dan memang membantu untuk kecepatan.

Masalahnya, kecepatan tanpa arah membuat kamu memproduksi lebih banyak konten yang mirip pasar. Budget iklan terbatas jadi terpakai untuk pesan yang gampang dilupakan.

Lateral thinking memberi keunggulan murah. Alatnya kertas, satu pertanyaan aneh, dan sedikit waktu sebelum mengetik prompt. Kamu tidak perlu tim besar untuk menemukan sudut pandang yang berbeda.

Dari sisi praktis, saya melihat titik rawannya ada di urutan kerja. Banyak orang membuka AI di menit pertama, lalu AI ikut menentukan cara pandangnya. Membalik urutan itu cukup sederhana: arah dari kamu, eksekusi dibantu AI.

Jebakannya: kapan pertanyaan absurd tidak membantu

Teknik ini punya batas, dan penting untuk jujur soal itu.

  • Kalau masalahnya ada di produk. Angle seunik apa pun tidak menutupi produk yang belum menyelesaikan masalah pembeli. Benahi isi produk dulu.
  • Kalau brand kamu belum dikenal. Apple bisa memasang iklan tanpa produk karena namanya sudah dikenal luas. Penjual baru biasanya tetap perlu menunjukkan isi produk dan siapa yang cocok membelinya.
  • Kalau angle-nya membuat orang bingung. Provokasi berguna di tahap berpikir. Di konten yang terbit, pesan tetap harus jelas dalam sekali baca.
  • Kalau menyentuh klaim sensitif. Untuk topik kesehatan, keuangan, atau hasil penghasilan, angle “berani” mudah berubah jadi janji berlebihan. Di sini kehati-hatian lebih penting daripada keunikan.
  • Kalau dipakai untuk menghindari riset. Pertanyaan absurd membantu menemukan hipotesis. Kebenarannya tetap dicek ke calon pembeli, komentar, atau pertanyaan yang sering masuk.

Untuk momen peluncuran, angle baru juga perlu disiapkan bersama audiens yang sudah hangat. Pembahasannya ada di artikel soal menyiapkan launch produk digital pertama supaya tidak sepi.

Latihan kecil yang bisa kamu coba minggu ini

Pilih satu produk digital yang sedang kamu jual atau siapkan. Lalu jalankan latihan ini:

  1. Kumpulkan 3-5 konten kompetitor dan tulis janji yang berulang.
  2. Pilih satu janji itu, lalu tulis beberapa provokasi Po darinya.
  3. Ambil satu prinsip yang paling menarik dan jadikan satu angle.
  4. Minta AI membuat beberapa hook dari angle tersebut.
  5. Terbitkan satu konten dengan angle baru itu, lalu baca komentar dan pertanyaan yang masuk.

Satu latihan per minggu sudah cukup untuk membangun kebiasaan. Pola kecil yang diulang ini sejalan dengan prinsip perbaikan 1% untuk konten harian.

Ide yang terdengar konyol di kertas sering jadi pintu ke angle yang terasa jelas setelah dirapikan. Jadi saat mentok berikutnya, tahan dulu jari dari prompt pertama, dan tulis satu kalimat yang dimulai dengan “Po:”.

Kalau kamu ingin dapat cara berpikir seperti ini secara rutin, kamu bisa ikut newsletter Hendra Kuang.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang harus dilakukan kalau ide konten mentok?

Mulailah dengan menulis asumsi yang selalu muncul di konten kategori produkmu. Pilih satu asumsi, lalu buat versi absurdnya, misalnya dibalik atau dihapus. Dari kalimat aneh itu, cari prinsip yang bisa dipakai sebagai angle baru. Setelah arahnya ada, gunakan AI untuk membuat variasi hook dan draft. Urutan ini membantu konten kamu bergeser dari pola yang sama dengan kompetitor.

Apa contoh lateral thinking dalam marketing?

Contoh yang sering dibahas adalah kampanye Think different milik Apple. Slogannya luas dibaca sebagai respons terhadap slogan IBM, Think, dan sebagian iklan cetaknya hanya menampilkan potret tokoh bersejarah tanpa produk. Dibaca dengan kacamata lateral thinking, kampanye ini menghapus asumsi bahwa iklan komputer harus menampilkan komputer. Hasilnya, brand berbicara tentang identitas pembeli.

Apa arti Po dalam lateral thinking?

Po adalah kata penanda yang diciptakan Edward de Bono untuk menandai sebuah provokasi. Kata ini diambil dari Provocative Operation. Saat menulis Po di depan sebuah kalimat, kamu sepakat untuk tidak menilai benar atau salahnya kalimat itu. Fokusnya adalah ke mana kalimat itu membawa pikiran, lalu prinsip apa yang bisa diambil untuk menjadi ide yang dapat dijalankan.

Apakah memakai AI membuat ide konten jadi seragam?

Ada risiko itu. Sebuah studi di Science Advances menemukan cerita pendek yang dibantu ide dari model bahasa dinilai lebih kreatif, tetapi lebih mirip satu sama lain. Studi itu menguji cerita, belum menguji konten jualan. Meski begitu, peringatannya relevan untuk pemasaran. Cara mengatasinya adalah menentukan arah atau angle sendiri dulu, lalu memakai AI untuk mengembangkan arah tersebut.

Artikel terkait

Butuh bantuan terapkan ini ke bisnismu?

Konsultasi digital marketing & AI langsung dengan Hendra Kuang, strategi berbasis data untuk market Indonesia.

Mulai konsultasi