Konten & CopywritingBisnis & Produk Digital

Cara Pakai P.S. Berlapis di Email Konfirmasi untuk Cross-Promo Tanpa Menumpuk Semua Ajakan di Satu Pitch

Cara Pakai P.S. Berlapis di Email Konfirmasi untuk Cross-Promo Tanpa Menumpuk Semua Ajakan di Satu Pitch

Kalau kamu mau memakai P.S. di email konfirmasi untuk promosi, caranya begini: selesaikan dulu tugas utama email, lalu tutup dengan dua sampai tiga P.S. terpisah, masing-masing berisi satu ajakan kecil ke satu aset berbeda. Pembaca yang tertarik akan klik, dan yang tidak tertarik bisa melewatinya tanpa merasa dijualin.

Intinya:

  • P.S. berlapis memberi tiap aset bisnismu tempat sendiri, sehingga pembaca bisa memilih yang relevan dalam sekali lirik.
  • Satu P.S. berisi satu ajakan, karena paragraf promosi yang mencampur tiga ajakan membuat pembaca malas memilah.
  • Email konfirmasi tetap harus fokus mengantar apa yang dijanjikan, dan P.S. baru muncul setelah tugas itu beres.

Coba bayangin dua email konfirmasi ini

Misalnya kamu punya usaha katering sehat di Surabaya. Kamu membagikan freebie berupa template menu mingguan. Selain itu kamu punya podcast soal pola makan, akun Instagram resep, dan kelas meal prep yang sedang disiapkan.

Email versi pertama mengirim link template, lalu ditutup satu paragraf panjang. Isinya kira-kira: “Jangan lupa dengerin podcast saya, follow Instagram juga ya, dan sebentar lagi ada kelas meal prep, nantikan!” Semua ajakan berdesakan dalam tiga kalimat.

Email versi kedua mengirim link template yang sama. Lalu di bawahnya ada tiga catatan pendek:

P.S. Kalau kamu bingung mulai dari menu yang mana, episode podcast minggu lalu membahas cara memilih tiga menu pertama. Dengarkan di sini.

P.P.S. Resep yang ada di template ini saya praktikkan satu per satu di Instagram. Kalau kamu lebih suka belajar dari video pendek, mampir ke sana.

P.P.P.S. Saya sedang menyiapkan kelas meal prep untuk keluarga sibuk. Balas email ini dengan kata “KELAS” kalau mau dikabari duluan.

Isinya sama. Tapi rasanya beda jauh, kan? Versi kedua terasa seperti teman yang menambahkan catatan, sementara versi pertama terasa seperti iklan yang ditempel di ujung email.

Apa itu P.S. berlapis di email?

P.S. berlapis adalah susunan dua sampai tiga catatan tambahan di akhir email, masing-masing membawa satu ajakan kecil ke satu aset yang berbeda. Atributnya:

Baca jugaBisnis & Produk DigitalBonus untuk Subscriber Baru Newsletter: Cara Kerja Starter Pack Berlapis di Email Pertama

  • Satu ajakan per P.S. Tidak ada P.S. yang mengajak ke dua tempat sekaligus.
  • Muncul setelah tugas utama email selesai. Link freebie, info akses atau konfirmasi pendaftaran tetap di atas.
  • Baris pertamanya menjelaskan untuk siapa. Pembaca langsung tahu catatan itu relevan atau tidak.
  • Pendek. Satu sampai tiga kalimat, satu link atau satu instruksi balas.
  • Diurutkan dengan sengaja. Urutannya mengikuti kedekatan dengan freebie dan beratnya ajakan.

Sementara itu, email konfirmasi adalah email otomatis yang terkirim setelah seseorang melakukan sesuatu, misalnya mendaftar newsletter atau meminta freebie. Cross-promo adalah memperkenalkan aset lain milikmu, seperti podcast, akun sosial atau produk baru, kepada orang yang datang lewat satu pintu.

Kenapa paragraf promosi gabungan sering diabaikan?

Mekanismenya ada di biaya memilah. Saat tiga ajakan dicampur dalam satu paragraf, pembaca harus membaca semuanya untuk tahu mana yang cocok buat dia. Kebanyakan orang tidak mau membayar biaya itu, jadi seluruh paragraf dilewati.

Ada tiga hal yang terjadi di kepala pembaca:

  1. Paragraf campur aduk terbaca sebagai satu blok “promosi”. Begitu matanya menangkap pola jualan, dia berhenti membaca detailnya.
  2. Tidak ada titik masuk yang jelas. Pembaca yang sebenarnya suka podcast tidak sadar ada ajakan podcast di tengah kalimat.
  3. Kesan email bergeser. Email yang tadinya bermanfaat terasa seperti punya agenda tersembunyi di akhir.

Kenapa P.S. terpisah lebih gampang dipilih pembaca?

Setiap P.S. punya penanda visual sendiri. Penanda itu bekerja seperti label rak di toko. Pembaca cukup membaca baris pertama, lalu memutuskan lanjut atau lewat.

Nah, ini yang sering terlewat. Pola ini menghormati pembaca yang tidak tertarik. Orang yang tidak punya waktu dengar podcast bisa langsung lompat ke P.S. berikutnya. Dia tidak merasa dipaksa, jadi kesan email tetap baik.

Logikanya mirip dengan memberi dua pintu di satu broadcast. Kalau kamu tertarik dengan cara pembaca memilih jalurnya sendiri, ada pembahasan lebih lengkap soal segmentasi subscriber lewat pilihan klik di satu broadcast. Bedanya, P.S. berlapis tidak bertujuan memberi tag pada subscriber. Fokusnya memberi exposure kecil ke beberapa aset sekaligus.

Gimana cara mengurutkan P.S. supaya tidak terasa jualan?

Urutan yang paling aman bergerak dari yang paling dekat dengan freebie ke yang paling jauh, dan dari ajakan paling ringan ke yang paling berat.

  1. P.S. pertama: lanjutan alami dari freebie. Misalnya episode podcast yang membahas topik yang sama. Pembaca baru saja minta topik itu, jadi ajakan ini terasa sebagai bantuan.
  2. P.S. kedua: tempat untuk tetap terhubung. Misalnya akun Instagram atau channel WhatsApp. Ajakannya ringan, cukup follow atau mampir.
  3. P.S. ketiga: bocoran produk yang sedang disiapkan. Ajakannya berupa minta dikabari, tanpa harga dan tanpa tenggat. Posisi terakhir membuatnya terasa seperti kabar, karena pembaca sudah menerima dua hal bermanfaat sebelumnya.

Kenapa produk di posisi terakhir? Karena ajakan yang menyangkut uang punya komitmen paling berat. Kalau ditaruh paling atas, seluruh email jadi terasa seperti pembuka jualan.

Ajakan “balas email ini” di P.S. terakhir juga punya fungsi tambahan. Kamu jadi tahu siapa yang benar-benar tertarik, lalu bisa menyapanya lebih lanjut. Untuk email lanjutan setelah itu, pakai sudut baru di setiap follow-up untuk offer yang sama supaya tidak mengulang pesan yang sama.

Kenapa pola ini cocok untuk solopreneur Indonesia?

Banyak pebisnis kecil di Indonesia mengurus beberapa aset sendirian. Ada Instagram, ada podcast atau YouTube, ada produk baru yang sedang digarap. Waktu untuk bikin broadcast khusus tiap aset hampir selalu kurang.

Email konfirmasi menyelesaikan sebagian masalah itu. Email ini terkirim otomatis ke setiap pendaftar baru. Jadi P.S. yang kamu tulis sekali akan terus bekerja sebagai papan petunjuk, tanpa kamu harus ingat mengirimnya.

Beberapa keuntungan praktisnya:

  • Tiap aset dapat exposure kecil secara rutin, tanpa satu aset pun mendominasi.
  • Kamu bisa mengganti satu P.S. tanpa merombak email. Kalau produk sudah rilis, cukup ubah P.S. ketiga.
  • Pembaca baru langsung tahu peta asetmu, di momen ketika perhatiannya sedang tinggi karena baru saja meminta sesuatu.

Kalau mau dibantu AI menulis P.S.-nya

Kamu bisa minta ChatGPT atau Claude membuat draft. Contoh prompt:

“Saya punya freebie [nama dan isi freebie]. Aset saya: [aset 1], [aset 2], [aset 3]. Tulis tiga P.S. untuk email konfirmasi. Tiap P.S. maksimal tiga kalimat, satu ajakan, baris pertama menjelaskan untuk siapa catatan itu. Urutkan dari yang paling nyambung dengan freebie ke yang paling jauh. Jangan sebut harga dan jangan pakai tenggat waktu.”

Hasilnya tetap perlu kamu edit. AI tidak tahu episode podcast mana yang paling nyambung, dan kamu yang paling paham asetmu sendiri.

Jebakannya: kapan P.S. berlapis tidak cocok dipakai?

Pola ini punya batas yang jelas. Perhatikan beberapa kondisi berikut.

Email transaksional murni sebaiknya dibiarkan bersih. Email reset password, bukti pembayaran atau link akses produk berbayar punya satu tugas penting. Pembeli sedang menunggu aksesnya, jadi promosi apa pun terasa mengganggu. Taruh cross-promo di email berikutnya.

Penerima yang menentukan sifat emailmu. Di FAQ panduan pengirim email Gmail, Google menyebut one-click unsubscribe wajib untuk email marketing dan promosi. Email transaksional seperti konfirmasi formulir dikecualikan. Tapi Google juga menegaskan penerima pesan, bukan Google, yang menentukan sifat pesan yang mereka terima.

Artinya, email konfirmasi yang dijejali promosi bisa dianggap email promosi oleh penerimanya. Panduan yang sama menyebut spam rate yang tinggi berdampak negatif pada pengiriman semua tipe email dari pengirim itu. Jadi jaga P.S. tetap ringan, dan sediakan cara mudah berhenti berlangganan.

Tugas utama harus beres dulu. Kalau link freebie tertimbun di bawah atau sulit ditemukan, P.S. malah menjadi distraksi. Pembaca yang gagal mendapat freebie tidak akan peduli dengan podcast-mu.

Aset yang tidak aktif jangan dipromosikan. Mengajak orang ke Instagram yang terakhir posting tiga bulan lalu justru menurunkan kepercayaan.

Lebih dari tiga P.S. kembali jadi footer. Kalau kamu tergoda menambah P.S. keempat dan kelima, itu tanda kamu perlu memilih. Simpan aset lain untuk email berikutnya dalam urutan sambutan.

P.S. produk yang memuat harga dan tenggat berubah menjadi pitch. Begitu ada angka harga dan hitung mundur, P.S. ketiga terasa sebagai jualan keras. Simpan detail itu untuk email penjualan yang memang dirancang untuk itu.

Langkah yang bisa kamu cek minggu ini

  1. Buka email konfirmasi otomatis yang sedang aktif. Pastikan link atau info utamanya muncul paling atas dan mudah diklik.
  2. Daftar semua aset yang masih aktif. Pilih maksimal tiga yang paling nyambung dengan freebie atau pendaftaran itu.
  3. Tulis satu P.S. per aset. Rumusnya: satu kalimat untuk siapa, satu kalimat manfaat, satu ajakan.
  4. Urutkan dari yang paling dekat dengan freebie ke yang paling berat komitmennya.
  5. Pakai link berbeda untuk tiap P.S., misalnya dengan parameter UTM. Dari situ kamu bisa melihat P.S. mana yang diklik.
  6. Kirim tes ke dirimu sendiri dan baca di HP. Baca hanya baris pertama tiap P.S. Kalau dari baris itu saja kamu sudah tahu isinya, susunannya sudah benar.
  7. Cek ulang link berhenti berlangganan dan pengaturan preferensi. Pembaca yang tidak cocok perlu jalan keluar yang mudah.

Kalau pembaca baru sering bertanya hal yang sama setelah menerima freebie, pertimbangkan juga email FAQ yang menjawab keberatan sebelum ditanya sebagai email kedua dalam urutan sambutan.

Satu pemikiran untuk dibawa pulang

Email konfirmasi adalah momen ketika seseorang baru saja bilang “iya” ke kamu. Hormati momen itu dengan mengantar janjimu lebih dulu. Setelah itu, beri dia beberapa pintu kecil yang boleh dibuka atau dilewati sesuai kebutuhannya.

Kalau kamu ingin dapat bahasan rutin soal email, konten dan AI untuk bisnis kecil, kamu bisa ikut newsletter Hendra Kuang. Setiap edisinya membahas satu pola yang bisa langsung kamu coba.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa fungsi P.S. di akhir email marketing?

P.S. di akhir email berfungsi sebagai catatan tambahan yang terpisah dari isi utama. Posisinya di bagian akhir dan penanda visualnya membuat P.S. mudah dikenali saat pembaca memindai email. Karena terpisah, P.S. cocok untuk ajakan kecil yang sifatnya opsional, misalnya mengajak mendengarkan podcast, mengikuti akun sosial, atau minta dikabari soal produk yang sedang disiapkan. Pembaca yang tertarik bisa klik, dan yang tidak tertarik bisa melewatinya.

Berapa banyak P.S. yang sebaiknya ada dalam satu email?

Dua sampai tiga P.S. biasanya sudah cukup untuk email konfirmasi. Setiap P.S. sebaiknya membawa satu ajakan ke satu aset. Kalau jumlahnya terus bertambah, bagian akhir email akan terasa seperti footer penuh link dan pembaca berhenti memilah. Saat punya banyak aset, pilih yang paling nyambung dengan freebie atau pendaftaran tersebut. Aset lain bisa diperkenalkan di email berikutnya dalam urutan sambutan.

Bolehkah menaruh promosi di email transaksional atau email konfirmasi?

Promosi ringan di email konfirmasi pendaftaran masih bisa dipakai dengan hati-hati, selama tugas utama email selesai lebih dulu. Email transaksional murni seperti bukti pembayaran, reset password, dan link akses produk berbayar sebaiknya tetap fokus pada fungsinya. Panduan Gmail menyebut penerima yang menentukan sifat pesan yang mereka terima. Email yang terasa terlalu promosi berisiko dilaporkan sebagai spam dan memengaruhi pengiriman email lainnya.

Bagaimana cara tahu P.S. mana yang paling efektif?

Cara paling sederhana adalah memakai link berbeda untuk setiap P.S., misalnya dengan menambahkan parameter UTM yang berbeda. Dari laporan klik di tool email atau analitik website, kamu bisa melihat P.S. mana yang paling sering diklik. Untuk ajakan berupa balas email, hitung berapa balasan yang masuk dengan kata kunci tertentu. Setelah beberapa waktu, ganti atau pindahkan urutan P.S. yang jarang dipilih pembaca.

Artikel terkait