AI untuk Digital MarketingKonten & Copywriting

Cara Membuat Angle Produk Digital dengan Jobs-to-be-Done ala Milkshake McDonald's

Cara Membuat Angle Produk Digital dengan Jobs-to-be-Done ala Milkshake McDonald's

Cara membuat angle produk digital dengan Jobs-to-be-Done dimulai dari memetakan situasi pembeli, perubahan yang dicari, dan alternatif yang dipakai. Setelah petanya jelas, minta AI menyusun pesan berbeda berdasarkan alasan beli tersebut.

Intinya:

  • Satu produk bisa membantu pembeli mencapai tujuan berbeda dalam situasi berbeda.
  • Angle yang berbeda punya alasan beli dan ukuran keberhasilan yang berbeda.
  • AI membutuhkan konteks pembeli dan batas kemampuan produk agar pesannya tetap masuk akal.

Misalnya, kamu menjual paket template perencanaan konten berisi bank ide, kalender publikasi, dan lembar pembagian tugas.

Seorang pemilik usaha rumahan membukanya setelah pesanan selesai dikemas. Ia perlu menentukan bahan posting besok tanpa kembali menatap halaman kosong.

Pembeli lain baru menyerahkan pengelolaan konten kepada admin. Ia perlu membuat arahan yang bisa dipahami tanpa menjelaskan ulang lewat WhatsApp.

File yang mereka beli sama. Situasi pertama menuntut kemudahan memulai, sedangkan situasi kedua menuntut kejelasan pembagian kerja. Dari sini, alasan membeli mulai terlihat.

Kenapa milkshake McDonald’s bisa punya pekerjaan berbeda?

Dalam contoh yang dibahas Harvard Business School Online, pembeli memakai milkshake McDonald’s untuk menemani perjalanan pagi dan menahan lapar. Kekentalannya memungkinkan minuman dikonsumsi perlahan selama perjalanan.

Kisah milkshake yang dijelaskan Christensen Institute juga menunjukkan situasi lain: orang tua membelikannya sebagai camilan menyenangkan untuk anak.

Kondisi pembelian mengubah apa yang dianggap berguna. Bagi penumpang atau pengemudi dalam perjalanan panjang, durasi konsumsi punya nilai. Bagi orang tua, kesenangan anak menjadi pertimbangan.

Jobs-to-be-Done adalah kerangka untuk memahami kemajuan yang ingin dicapai seseorang dalam situasi tertentu. Kerangka ini memperhatikan keadaan pembeli serta dimensi fungsional, emosional, dan sosial dalam keputusannya. Christensen Institute menjelaskan dasar pendekatan ini.

Untuk menyusun angle, kita bisa menerjemahkannya menjadi lima unsur praktis:

  • Situasi: apa yang sedang terjadi ketika kebutuhan muncul?
  • Pemicu: kejadian apa yang membuat solusi mulai dicari?
  • Kemajuan: perubahan apa yang ingin dirasakan pembeli?
  • Alternatif: cara apa yang sekarang dipakai?
  • Hambatan: apa yang membuat pembeli ragu beralih?

Dalam contoh template tadi, alternatif pembeli bisa berupa catatan ponsel, mencari inspirasi setiap malam, atau mengirim instruksi spontan kepada admin.

Artinya, pesan produk perlu menjelaskan manfaat beralih dari kebiasaan tersebut. Daftar fitur saja menyisakan pekerjaan bagi pembeli: menerjemahkan sendiri relevansinya dengan masalah mereka.

Cara membuat angle produk digital dari situasi pembeli

Angle produk digital adalah sudut pesan yang menonjolkan alasan produk relevan bagi kebutuhan pembeli tertentu. Dalam penerapan Jobs-to-be-Done, angle diturunkan dari situasi dan kemajuan yang dicari.

Baca jugaKonten & CopywritingKaizen 1%: Cara Konsisten Bikin Konten Harian Produk Digital

Saya menyarankan memakai kalimat penghubung sebelum menulis headline.

Job story adalah rumusan singkat yang menghubungkan situasi, keinginan, dan hasil yang diharapkan. Bentuk praktisnya: “Ketika …, saya ingin …, supaya ….”

Job story membantu kita memeriksa apakah pesan punya dasar yang jelas.

Saat pekerjaan menumpuk, pembeli mencari titik mulai

Misalnya: “Ketika urusan pesanan baru selesai, saya ingin menentukan konten berikutnya supaya pekerjaan promosi punya titik mulai yang jelas.”

Angle yang bisa dicoba: “Selesai urus pesanan, buka rencana posting berikutnya.”

Bank ide dan kalender menjadi bagian produk yang paling relevan. Contoh penggunaannya perlu memperlihatkan cara memilih ide lalu menaruhnya dalam jadwal.

Keberatan yang perlu dijawab: apakah template ini mudah diisi ketika tenaga sudah terbatas?

Saat ada admin baru, pembeli mencari kejelasan arahan

Misalnya: “Ketika admin mulai mengurus konten, saya ingin menuliskan arahan supaya tugas bisa berjalan tanpa penjelasan berulang.”

Angle yang bisa dicoba: “Satukan brief dan jadwal supaya admin tahu tugas berikutnya.”

Lembar pembagian tugas menjadi bukti yang lebih relevan. Tampilkan contoh brief, penanggung jawab, dan status pekerjaan yang memang tersedia dalam paket.

Keberatannya berubah: apakah admin bisa memahami formatnya tanpa pelatihan panjang?

Saat ide menumpuk, pembeli mencari keputusan

Misalnya: “Ketika simpanan ide terus bertambah, saya ingin memilih yang layak dikerjakan supaya ada konten yang selesai.”

Angle yang bisa dicoba: “Pilih ide tersimpan untuk masuk jadwal produksi.”

Angle ini layak dipakai jika template membantu menyeleksi ide. Bila isinya hanya tempat menyimpan tautan, kemampuan produknya perlu diperiksa dahulu.

Nah, ketiganya berbeda pada pemicu, tujuan, dan bukti yang dibutuhkan. Mengganti kata “praktis” menjadi “efisien” masih membahas alasan beli yang sama.

Beri AI peta yang bisa ditelusuri

AI generatif bisa membantu menyusun variasi pesan dari peta Jobs-to-be-Done yang kamu berikan. Perlakukan hasilnya sebagai usulan untuk diperiksa.

Siapkan ringkasan isi produk, catatan percakapan pembeli, job story, dan batas kemampuan produk. Pisahkan ucapan pembeli yang tercatat dari dugaan kamu.

Lalu gunakan instruksi seperti ini:

Berdasarkan catatan berikut, kelompokkan situasi pembeli yang berbeda. Untuk setiap situasi, tulis pemicu, kemajuan yang dicari, alternatif, dan hambatan beralih.

Susun satu angle, contoh headline, dan bagian produk yang mendukung setiap kelompok. Tandai asumsi dan informasi yang belum tersedia.

Jika alasan belinya sama, gabungkan variasinya. Jangan menambahkan fitur, testimoni, atau hasil yang tidak tercantum dalam bahan.

Periksa hubungan antara pesan dan bukti produknya. Pesan tentang delegasi membutuhkan bagian produk yang memang membantu pembagian kerja.

Setelah angle dipilih, kamu bisa memperdalam cara menerjemahkannya menjadi deskripsi produk. Peta situasi menjadi pegangan agar penjelasannya tetap konsisten.

Tim tipis perlu memilih angle yang sanggup dilayani

Untuk solopreneur Indonesia yang mengurus produk, konten, dan percakapan penjualan sendiri, setiap angle membawa pekerjaan tambahan.

Pesan berbeda bisa memerlukan contoh penggunaan berbeda. Pertanyaan calon pembelinya juga bisa berubah. Angle delegasi, misalnya, mengundang pertanyaan tentang akses tim dan pembagian tanggung jawab.

Karena itu, pilih situasi yang punya dukungan paling jelas dalam catatan pembeli dan isi produk. Kamu bisa mulai dari satu situasi yang paling dipahami.

Pertimbangan saya sederhana: biaya mencoba angle mencakup materi, waktu menjawab pertanyaan, dan kemampuan memenuhi harapan pembeli.

Kalau pemetaan justru memperlihatkan terlalu banyak kebutuhan, gunakan prinsip menjaga lingkup produk digital tetap kecil untuk menentukan kebutuhan yang sanggup dilayani.

Kapan pendekatan ini tidak berlaku, dan apa jebakannya?

Mengembangkan banyak angle tidak tepat ketika produk hanya mendukung satu kebutuhan yang sempit. Memaksakan variasi dapat memperluas janji melewati kemampuan produk.

Jebakan lain muncul saat situasi hanya ditebak. “Pemilik usaha ingin hemat waktu” terlalu luas untuk menunjukkan momen pembelian. Telusuri pekerjaan apa yang menghabiskan waktu dan kejadian yang memicu pencarian.

Ada juga pembeli yang memahami manfaatnya, tetapi tetap bertahan dengan cara lama. Memindahkan catatan, belajar format, atau mengajak admin bisa terasa merepotkan.

Angle perlu mempertimbangkan hambatan tersebut. Pesan yang terdengar relevan tetap membutuhkan pengalaman penggunaan yang mendukung.

Jika bukti percakapan masih terbatas, simpan peta sebagai hipotesis. Kalimat yang rapi belum membuktikan adanya permintaan.

Minggu ini, uji alasan beli yang paling jelas

Mulai dengan pemeriksaan kecil berikut:

  1. Telusuri percakapan yang tersedia. Cari pertanyaan sebelum membeli, keluhan penggunaan, atau alasan menunda keputusan.
  2. Tanyakan urutan kejadian. Apa yang terjadi sebelum mencari solusi? Cara apa yang sempat dicoba? Apa yang membuat cara itu terasa kurang cocok?
  3. Susun job story dari jawaban. Pertahankan kata-kata pembeli yang memang tercatat dan tandai bagian yang masih berupa dugaan.
  4. Pilih angle yang didukung produk. Siapkan contoh penggunaan yang menunjukkan hubungan antara masalah dan kemampuan produk.
  5. Coba pesannya dalam konteks sebanding. Perhatikan apakah pembaca mengenali situasinya, menanyakan penggunaan yang relevan, dan memahami manfaatnya.

Catat juga apakah pembelian terjadi dan harapannya sesuai. Respons kecil memberi petunjuk awal; perbedaan audiens atau saluran bisa memengaruhi hasil pengujian.

Satu produk dapat masuk ke kehidupan orang melalui beberapa kebutuhan. Kejelasan situasi memberi setiap pesan alasan untuk ada.

Coba ambil satu percakapan pembeli minggu ini, lalu tulis job story-nya sebelum membuka AI.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu Jobs-to-be-Done untuk produk digital?

Jobs-to-be-Done membantu memahami perubahan yang dicari pembeli ketika menghadapi keadaan tertentu. Untuk produk digital, penerapannya menghubungkan kebutuhan tersebut dengan kemampuan ebook, template, atau materi belajar. Kamu menelusuri pemicu pencarian, cara lama yang digunakan, serta hambatan beralih. Temuan itu menjadi dasar memilih pesan dan contoh penggunaan yang relevan.

Apa hubungan milkshake McDonald’s dengan angle marketing?

Contoh milkshake McDonald’s memperlihatkan bagaimana keadaan pembeli menentukan kegunaan produk. Kebutuhan menemani perjalanan berbeda dari kebutuhan memberikan camilan kepada anak. Dalam marketing, pola ini membantu menyusun pesan berdasarkan tujuan penggunaan. Untuk produk digital, kamu bisa mencari situasi berbeda yang benar-benar dapat dilayani oleh isi produk.

Bagaimana cara membedakan angle produk dengan variasi headline?

Periksa alasan membeli yang dibahas setiap pesan. Angle berbeda menyoroti situasi, tujuan, atau pertimbangan pembeli yang berbeda. Variasi headline mengubah cara menyampaikan alasan yang sama. Cobalah menjelaskan siapa yang membutuhkan pesan tersebut, kapan kebutuhannya muncul, dan bukti produk yang relevan. Jawaban serupa menunjukkan angle yang masih berdekatan.

Bagaimana cara memakai AI untuk membuat angle produk digital?

Berikan AI catatan kebutuhan pembeli, rumusan job story, isi produk, dan batas kemampuannya. Minta pengelompokan situasi beserta pesan yang sesuai untuk setiap kelompok. Periksa asumsi yang muncul dan cocokkan setiap janji dengan materi produk. Setelah itu, uji apakah calon pembeli memahami pesan serta menghubungkannya dengan kebutuhan mereka.

Artikel terkait

Butuh bantuan terapkan ini ke bisnismu?

Konsultasi digital marketing & AI langsung dengan Hendra Kuang, strategi berbasis data untuk market Indonesia.

Mulai konsultasi